MEDIAKOMPETEN.CO.ID - Kebiasaan menyimpan sisa makanan seperti nasi atau lauk pauk di dalam kulkas adalah praktik umum di banyak rumah tangga Indonesia. Namun, di balik kepraktisan tersebut, tersimpan potensi risiko kesehatan yang sering kali terabaikan oleh masyarakat.
Ternyata, cara penanganan sisa makanan yang kurang tepat dapat memberikan dampak signifikan terhadap kesehatan tubuh jika dikonsumsi kembali. Hal ini menjadi sorotan serius dari para pakar kesehatan pangan.
Dr. Primrose Freestone, seorang ahli mikrobiologi terkemuka dari Leicester University, memberikan peringatan keras mengenai praktik penyimpanan sisa makanan tersebut. Menurutnya, penyimpanan yang tidak sesuai standar menjadi salah satu pemicu utama insiden keracunan makanan.
"Keracunan makanan disebabkan karena mengonsumsi makanan yang telah terkontaminasi bakteri, jamur, atau virus patogen," kata Dr Freestone dilansir dari Unilad. Pernyataan ini menggarisbawahi peran utama mikroorganisme dalam menyebabkan gangguan pencernaan.
Banyak orang cenderung berfokus pada risiko makanan yang belum matang sempurna atau proses persiapan yang ceroboh dalam mencegah keracunan pangan. Padahal, faktor lain sering kali luput dari perhatian utama.
"Meskipun banyak orang tahu bahwa keracunan makanan bisa disebabkan oleh makanan yang dimasak kurang matang atau kebiasaan persiapan makanan yang berisiko, sisa makanan yang disimpan dengan tidak benar juga merupakan penyebab utama," sambungnya.
Kutipan dari Dr. Freestone ini menekankan bahwa tahapan setelah makanan dimasak, yaitu proses pendinginan dan penyimpanan, sama krusialnya dengan proses memasak itu sendiri. Kesalahan pada fase ini dapat membuka peluang kontaminasi.
Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk meningkatkan kesadaran mengenai teknik pendinginan yang benar untuk meminimalkan pertumbuhan mikroba berbahaya pada sisa makanan yang akan dikonsumsi di hari berikutnya.