MEDIAKOMPETEN.CO.ID - Filipina merupakan negara tetangga Indonesia yang memiliki letak geografis cukup berdekatan. Ternyata, negara kepulauan ini menyimpan berbagai keunikan yang memiliki kemiripan signifikan dengan wilayah Sulawesi Utara.
Kesamaan ini mencakup berbagai aspek, mulai dari kekayaan fauna endemik hingga tradisi minuman lokal yang telah mengakar di masyarakat. Hal tersebut menjadikan hubungan kedua wilayah ini terasa lebih dekat secara kultural dan ekologis.
Salah satu bukti nyata adalah keberadaan hewan primata kecil yang ikonik, yakni Tarsius. Di wilayah Sulawesi Utara, masyarakat mengenal hewan ini dengan nama ilmiah Tarsius spectrum sebagai penghuni hutan setempat yang dilindungi.
"Sulawesi Utara memiliki hewan endemik, yaitu Tarsius (Tarsius spectrum)," sebagaimana dilansir dari sumber berita terkait mengenai kekayaan alam di wilayah tersebut.
Fenomena serupa juga ditemukan di Bohol, Filipina, yang menjadi habitat bagi spesies Carlito syrichta. Meskipun memiliki nama ilmiah yang berbeda, keduanya merupakan jenis tarsius yang memiliki karakteristik fisik dan perilaku yang hampir serupa.
Selain dari sisi fauna, kemiripan juga terlihat jelas pada budaya konsumsi minuman tradisional beralkohol. Sulawesi Utara sangat dikenal dengan minuman khasnya yang disebut Cap Tikus, yang merupakan hasil dari proses penyulingan nira pohon enau.
"Filipina ternyata memiliki lambanog, tuak khas Filipina yang terbuat dari nira kelapa," dilansir dari sumber informasi mengenai ragam kuliner tradisional di negara tetangga tersebut.
Minuman lambanog ini diketahui mengandung kadar alkohol yang sangat tinggi, yakni mencapai 80 persen. Produksi minuman keras tradisional ini banyak berpusat di kawasan Provinsi Quezon yang terletak di Pulau Luzon.
Keberadaan lambanog di Filipina dan Cap Tikus di Sulawesi Utara menunjukkan adanya kemiripan teknik pengolahan hasil alam di kedua wilayah. Keduanya memanfaatkan nira dari pohon jenis palma sebagai bahan dasar utama pembuatan minuman beralkohol tersebut.