MEDIAKOMPETEN.CO.ID - Momen Idulfitri selalu identik dengan kehangatan, kebersamaan, dan tentunya, ragam hidangan khas yang menggugah selera. Di antara semua sajian tersebut, makanan dan minuman manis seringkali mendominasi meja makan keluarga.

Aneka kudapan seperti kue kering dalam toples, hidangan penutup tradisional, hingga sirup dingin siap menyambut para tamu dan tuan rumah yang bersilaturahmi. Kehadiran sajian manis ini seolah menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi Lebaran di Indonesia.

Namun, tanpa disadari, konsumsi berlebihan dalam waktu singkat dapat terjadi selama periode perayaan ini. Banyak individu cenderung mengabaikan batas wajar ketika disuguhkan berbagai pilihan gula-gula menggoda.

Asupan gula yang melonjak drastis dalam waktu relatif singkat ini membawa konsekuensi yang lebih dari sekadar rasa kenyang atau mual biasa. Dampak signifikan dapat dirasakan pada kondisi psikologis seseorang.

Fenomena ini dapat memicu fluktuasi suasana hati yang signifikan, menyebabkan emosi menjadi tidak stabil atau yang sering disebut sebagai mood yang "amburadul". Hal ini tentu menjadi ironi di hari kemenangan.

Lebaran seharusnya menjadi waktu penuh kebahagiaan, refleksi diri, dan momen saling memaafkan yang membangun hubungan positif. Namun, perubahan suasana hati negatif dapat mengganggu esensi perayaan tersebut.

"Makanan manis dan Lebaran agaknya jadi dua hal yang tidak bisa dipisahkan," menggarisbawahi bagaimana tradisi kuliner ini saling terkait erat selama perayaan hari raya, sebagaimana dikutip dari sumber berita.

"Dari mulai es buah, kue di toples, sampai sirup sudah pasti tersedia di atas meja," menjelaskan variasi hidangan manis yang menjadi primadona saat Idulfitri tiba, menurut analisis awal.

"Masalahnya, banyak orang tak sadar sudah kebanyakan makan manis dalam waktu singkat," menjadi peringatan penting mengenai pola konsumsi impulsif yang sering terjadi saat hari raya, tegas laporan tersebut.