MEDIAKOMPETEN.CO.ID - Momen Hari Raya Idulfitri seringkali digambarkan sebagai puncak kebahagiaan setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa Ramadan. Tradisi berkumpul bersama keluarga, menikmati hidangan istimewa, serta saling memaafkan menjadi esensi yang dinanti banyak orang.
Namun, realitasnya tidak selalu seindah bayangan tersebut bagi sebagian kalangan. Ada fenomena yang dikenal sebagai 'Lebaran Blues', di mana suasana hari raya justru memicu stres, kecemasan, bahkan rasa takut.
Kondisi ini muncul ketika pertemuan silaturahmi diwarnai dengan tekanan sosial yang tidak menyenangkan. Bagi mereka yang merasakan 'Lebaran Blues', esensi kebahagiaan hari raya terasa hilang tertutupi beban.
Tekanan tersebut seringkali bersumber dari pertanyaan-pertanyaan personal yang dilontarkan oleh kerabat atau teman saat bersua. Pertanyaan-pertanyaan ini seringkali dianggap mengusik privasi di tengah suasana perayaan.
Spesialis kesehatan jiwa, dr Lahargo Kembaren, SpKJ, menyoroti bahwa bagi sebagian individu, Lebaran bisa bertransformasi menjadi semacam ujian sosial yang menguras energi. Hal ini terjadi akibat interaksi yang kurang sensitif.
"Bagi sebagian orang memang Lebaran bisa berubah menjadi ujian sosial melalu pertanyaan-pertanyaan seperti 'kapan nikah?', 'kerja di mana sekarang?' sampai 'sudah punya anak atau belum?'" ungkap dr Lahargo Kembaren, SpKJ.
Pernyataan dari dr Lahargo Kembaren, SpKJ tersebut menegaskan bahwa pertanyaan-pertanyaan umum mengenai status pernikahan atau pekerjaan dapat menjadi pemicu utama munculnya kecemasan saat silaturahmi. Penting untuk menyadari dampak dari interaksi semacam itu.
Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk lebih peka dalam berkomunikasi saat momen silaturahmi Idulfitri untuk menjaga suasana tetap hangat dan suportif. Mengelola ekspektasi sosial menjadi kunci agar momen fitri tetap bermakna positif.