MEDIAKOMPETEN.CO.ID - Gempa bumi dengan kekuatan signifikan mencapai magnitudo 7,6 mengguncang wilayah perairan tenggara Bitung, Sulawesi Utara, pada Kamis pagi, tanggal 2 April 2026. Kejadian ini sontak menimbulkan kepanikan di kalangan masyarakat setempat.

Getaran hebat dari gempa tersebut dilaporkan terasa kuat di berbagai titik di Sulawesi Utara, memicu kekhawatiran akan potensi dampak yang lebih luas. Intensitas guncangan ini bahkan membangkitkan memori sejarah kelam wilayah tersebut.

Peristiwa seismik kali ini secara tidak langsung mengingatkan kembali pada catatan sejarah gempa yang pernah dialami oleh naturalis terkenal, Alfred Russel Wallace, di Tomohon lebih dari 160 tahun silam. Guncangan tersebut seolah menjadi pengingat akan aktivitas tektonik yang selalu ada di kawasan ini.

Plt. Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Rahmat Triyono, memberikan rincian mengenai lokasi persis terjadinya gempa bumi tersebut. Informasi ini krusial untuk pemetaan potensi risiko di area tersebut.

Menurut Rahmat Triyono, pusat gempa atau episenter tercatat berada pada koordinat 1.25 derajat Lintang Utara dan 126.27 derajat Bujur Timur. Data ini diperoleh segera setelah peristiwa terjadi untuk memitigasi risiko.

"Episentrum gempa berlokasi di 1.25 derajat LU - 126,27 BT, dengan kedalaman 33 km," ungkap Plt. Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG Rahmat Triyono.

Rahmat Triyono juga menjelaskan mekanisme di balik gempa tersebut berdasarkan lokasi dan kedalaman hiposenternya. Gempa ini diklasifikasikan berdasarkan sumber tektonik yang aktif di bawah laut.

"Berdasarkan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas Subduksi Laut Maluku," kata Rahmat Triyono.

Meskipun episentrum berada di kawasan pesisir utara, getaran gempa ini berhasil menjalar hingga ke wilayah Tomohon. Tomohon sendiri terletak di dataran tinggi pada kaki Gunung Mahawu, sekitar 30 hingga 40 kilometer di sebelah selatan pusat gempa.