MEDIAKOMPETEN.CO.ID - Momen Hari Raya Idulfitri sejatinya adalah puncak kehangatan sosial, di mana tradisi pulang kampung dan saling memaafkan menjadi inti perayaan. Momen ini seharusnya diisi dengan kebersamaan keluarga, menikmati hidangan khas seperti opor, dan mempererat tali silaturahmi.

Namun, bagi sebagian besar masyarakat, perayaan Idulfitri kerap diselipi sebuah dinamika sosial yang kurang menyenangkan. Fenomena ini adalah munculnya "kewajiban terselubung" untuk menampilkan citra keberhasilan atau kesuksesan materi kepada orang-orang sekitar.

Dorongan untuk memamerkan pencapaian ini sering kali mengurangi esensi spiritual dan kekeluargaan dari perayaan tersebut. Hal ini menciptakan tekanan tak kasat mata mengenai bagaimana seseorang dinilai oleh kerabat jauh maupun tetangga.

Fenomena sosial ini menarik perhatian dari sisi kesehatan jiwa untuk dianalisis lebih lanjut. Kebutuhan untuk menunjukkan status yang lebih baik sering kali menjadi beban psikologis tambahan saat Lebaran tiba.

Menurut spesialis kesehatan jiwa, dr Lahargo Kembaren, SpKJ, munculnya tekanan untuk tampil sukses ini dapat dijelaskan melalui beberapa faktor psikologis mendasar. Faktor-faktor ini berakar kuat pada kebutuhan manusia akan validasi sosial.

"Hal seperti ini bisa dijelaskan secara psikologis seperti butuh pengakuan, tak ingin kalah dari yang lain, membangun citra diri, hingga mekanisme pertahanan diri dari rasa tidak aman," kata dr Lahargo Kembaren, SpKJ.

Kebutuhan akan pengakuan sosial menjadi salah satu pendorong utama dalam menampilkan pencapaian, baik itu dalam karier, finansial, maupun status pernikahan. Hal ini menunjukkan adanya kompetisi informal yang terjadi antarindividu.

Selain itu, mekanisme pertahanan diri juga berperan; menunjukkan kesuksesan adalah cara untuk menutupi atau mengimbangi perasaan tidak aman (insecurity) yang mungkin dirasakan seseorang sepanjang tahun.

Dengan demikian, silaturahmi yang seharusnya bebas dari penilaian, justru berubah menjadi panggung singkat untuk memvalidasi perjalanan hidup seseorang di mata publik sosial terdekat.