MEDIAKOMPETEN.CO.ID - Singapura tengah memasuki babak demografis yang signifikan dalam sejarahnya. Negara kota ini diproyeksikan akan resmi menjadi 'super-aged society' pada tahun 2026 mendatang.

Status ini dicapai ketika lebih dari seperlima populasi, atau tepatnya 20 persen penduduk, telah menginjak usia 65 tahun ke atas.

Keberhasilan luar biasa dalam sektor kesehatan dan pertumbuhan ekonomi telah memperpanjang harapan hidup warga Singapura. Namun, keberhasilan ini kini diiringi oleh tantangan sosial yang semakin mengkhawatirkan.

Salah satu isu yang mulai mengemuka adalah meningkatnya jumlah lansia yang menjalani sisa hidup mereka dalam isolasi total. Fenomena ini memuncak pada kondisi di mana mereka meninggal dunia tanpa ada seorang pun di sisi mereka.

Fenomena kesepian pada lansia ini melampaui sekadar masalah sosial biasa yang dihadapi masyarakat perkotaan modern. Hal ini juga menjadi cerminan mendalam dari pergeseran fundamental dalam tatanan keluarga tradisional.

Perubahan gaya hidup kontemporer dan kecepatan modernisasi turut memberikan tekanan pada struktur dukungan komunitas dan keluarga yang selama ini menjadi sandaran para senior.

Selain itu, keterbatasan yang ada dalam sistem perawatan lansia yang tersedia saat ini turut memperburuk situasi ini. Kebutuhan akan layanan pengawasan dan pendampingan komprehensif semakin mendesak.

Fenomena ini merupakan refleksi dari perubahan struktur keluarga, gaya hidup modern, dan keterbatasan sistem perawatan lansia, ujar seorang analis sosial dilansir dari laporan perkembangan demografi terbaru.

Disclaimer: Artikel ini ditulis ulang secara otomatis oleh AI berdasarkan sumber Referensi: Health.detik. Kami menggunakan teknologi AI untuk menyajikan informasi ini kembali.