MEDIAKOMPETEN.CO.ID - Momen libur panjang Idulfitri yang identik dengan kebersamaan keluarga, silaturahmi hangat, dan hidangan lezat kini telah berakhir. Menyusul berakhirnya euforia tersebut, banyak masyarakat yang mulai merasakan penurunan suasana hati.
Kondisi emosional yang melankolis ini sering kali disebut sebagai post holiday blues. Ini adalah perasaan sulit untuk kembali beradaptasi setelah menikmati periode relaksasi yang panjang.
Fenomena ini bukanlah hal yang asing dan dianggap sebagai respons psikologis yang wajar terjadi. Psikolog memberikan pandangan bahwa kondisi ini menandakan adanya proses penyesuaian diri.
Veronica Adesla, MPsi, seorang psikolog sekaligus pendiri Ohana Space, membenarkan bahwa perasaan pasca liburan adalah hal yang lumrah. Hal ini terjadi karena adanya perubahan mendadak dalam rutinitas harian seseorang.
"Itu kan ibaratnya kayak berpisah dari momen-momen menyenangkan, seru, rileks gitu," ujar Veronica Adesla saat dihubungi detikcom beberapa waktu lalu.
Perpisahan dari suasana menyenangkan inilah yang memicu munculnya perasaan sedih atau hampa. Perasaan ini timbul karena adanya kontras antara suasana liburan dan realitas yang dihadapi.
Psikolog tersebut lebih lanjut menjelaskan bahwa periode liburan sering kali menjadi waktu pembebasan diri dari tekanan sehari-hari. "Kayak momen-momen di mana terlepas dari semua beban pekerjaan, rutinitas, dan omelan-omelan yang mungkin diterima," tutur Veronica Adesla.
Oleh karena itu, kembalinya ke rutinitas kerja atau sekolah terasa lebih berat. Transisi dari fase rileks total menuju disiplin kerja menuntut penyesuaian emosional yang signifikan.
Menyadari bahwa ini adalah fase transisi yang normal dapat membantu individu untuk lebih menerima perasaannya. Langkah awal dalam mengatasi post holiday blues adalah mengakui bahwa perasaan tersebut valid.