MEDIAKOMPETEN.CO.ID - Bupati Tulungagung, Gatut Sunu Wibowo, baru-baru ini menyampaikan keprihatinannya mengenai kondisi fasilitas publik di lingkungan pemerintah daerahnya sendiri. Sorotan tertuju pada kebun binatang mini yang berada di area pendapa kabupaten.

Kondisi hewan-hewan yang ditempatkan di sana menjadi perhatian utama orang nomor satu di Tulungagung tersebut. Ia mengamati bahwa beberapa satwa terlihat dalam kondisi yang kurang terawat dan tampak kurus.

Ironisnya, kondisi memprihatinkan ini terjadi meskipun pemerintah daerah telah mengalokasikan anggaran yang cukup besar untuk pemeliharaan rutin satwa tersebut. Anggaran tersebut diperuntukkan khususnya untuk biaya konsumsi harian hewan-hewan itu.

Lebih lanjut, Bupati Gatut mengungkapkan bahwa dana yang telah digelontorkan untuk makanan hewan tersebut mencapai nominal Rp600 ribu setiap harinya. Angka ini seharusnya menjamin kesejahteraan dan nutrisi yang memadai bagi koleksi satwa di sana.

Kritik keras dari pimpinan daerah ini pertama kali disampaikan bukan melalui kanal resmi pemerintah, melainkan melalui media sosial pribadinya. Hal ini menunjukkan tingkat kekecewaan yang mendalam atas manajemen operasional di lokasi tersebut.

Ungkapan otokritik tersebut muncul dalam sebuah unggahan di akun WhatsApp pribadi Bupati Gatut pada pukul 07.25 WIB. Momen ini menjadi titik awal terungkapnya masalah perawatan fasilitas publik tersebut ke publik.

Dalam unggahan tersebut, Bupati Gatut membagikan sebuah rekaman video yang menampilkan momen interaksi cucunya dengan salah satu koleksi hewan di sana. Secara spesifik, video tersebut memperlihatkan kawasan penangkaran rusa di area kandang pendapa.

Meskipun video utamanya tentang cucunya, Bupati Gatut memanfaatkan deskripsi unggahan tersebut untuk melayangkan kritik pedas. Ia "memberikan kritik keras terhadap kondisi hewan di kebun binatang mini tersebut," sebagaimana yang dilansir dari beberapa media lokal.

Kritik tajam tersebut menyoroti adanya ketidaksesuaian antara alokasi dana yang ada dengan hasil pengawasan kondisi fisik para hewan di penangkaran mini itu. Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai pengawasan dan realisasi anggaran di lapangan.