MEDIAKOMPETEN.CO.ID - Kekhawatiran mengenai stabilitas pasokan energi global, terutama yang dipicu oleh konflik di Timur Tengah, mulai memaksa negara-negara Asia untuk mencari solusi darurat. Salah satu opsi yang sedang dipertimbangkan adalah mengaktifkan kembali kebijakan yang pernah populer selama masa pandemi COVID-19.
Fokus utama dari kajian ulang kebijakan ini adalah upaya signifikan untuk menekan laju konsumsi energi di tingkat domestik. Langkah ini dianggap perlu untuk memitigasi dampak langsung dari kenaikan harga dan kelangkaan bahan bakar.
Wacana untuk memberlakukan kembali sistem bekerja dari rumah (WFH) kini mengemuka di beberapa negara kawasan Asia. Meskipun belum ada keputusan resmi yang dikeluarkan, diskusi mengenai opsi ini semakin intensif di kalangan pembuat kebijakan.
Langkah ini dilihat sebagai cara efektif untuk mengurangi mobilitas masyarakat, yang secara langsung akan berdampak pada penurunan permintaan bahan bakar untuk transportasi sehari-hari. Hal ini mencerminkan strategi mitigasi krisis yang pernah terbukti efektif beberapa tahun lalu.
Situasi ini menunjukkan bagaimana isu geopolitik global dapat memiliki resonansi kebijakan domestik yang cepat dan signifikan di negara-negara yang sangat bergantung pada impor energi. Pemerintah sedang memetakan skenario terburuk terkait ketersediaan energi.
Mengenai potensi penerapan WFH ini, terdapat dukungan awal dari beberapa pejabat tinggi di pemerintahan terkait. Mereka melihat langkah ini sebagai respons yang pragmatis terhadap tekanan energi yang sedang dihadapi.
Salah satu tanggapan positif datang dari pejabat tinggi Korea Selatan mengenai usulan tersebut. "Saya pikir itu ide yang bagus," kata Menteri Energi Korea Selatan, Kim Sung-whan, dilansir dari CNA, menanggapi rekomendasi kerja dari rumah.
Pernyataan tersebut mengindikasikan bahwa otoritas energi di Korea Selatan melihat WFH sebagai salah satu instrumen kebijakan yang layak digunakan untuk mengendalikan situasi krisis energi saat ini. Langkah ini diposisikan sebagai bagian dari upaya adaptasi terhadap tantangan energi global.