MEDIAKOMPETEN.CO.ID - Pasca perayaan Idulfitri, keluhan nyeri pada area tengkuk dilaporkan meningkat di tengah masyarakat. Momen ini sering bertepatan dengan konsumsi makanan tinggi kalori dan lemak selama liburan panjang.

Kondisi nyeri tengkuk yang muncul ini secara spontan sering kali dihubungkan dengan potensi kenaikan kadar kolesterol dalam darah. Hal ini dipicu oleh konsumsi masif hidangan khas Lebaran seperti opor, rendang, serta kue-kue manis tinggi gula.

Namun, perlu ditekankan bahwa tidak semua kasus nyeri tengkuk merupakan indikasi langsung dari tingginya kadar kolesterol dalam tubuh. Asosiasi langsung ini sering kali kurang tepat sasaran dalam mendiagnosis penyebab sebenarnya.

Faktanya, dalam banyak situasi klinis, keluhan rasa tidak nyaman di leher bagian belakang ini justru lebih sering disebabkan oleh faktor-faktor yang berkaitan dengan rutinitas harian. Kebiasaan inilah yang seringkali luput dari perhatian utama.

Salah satu pemicu umum adalah posisi duduk yang tidak ergonomis atau kurang mendukung kenyamanan tulang belakang. Posisi yang salah ini dapat memberikan tekanan berlebihan pada otot dan saraf di area tengkuk.

Selain itu, kebiasaan menunduk terlalu lama saat menggunakan gawai, seperti ponsel pintar, juga menjadi kontributor signifikan. Aktivitas ini memaksa otot leher bekerja dalam posisi yang tidak wajar dalam durasi panjang.

Kelelahan fisik yang menumpuk setelah melalui aktivitas perjalanan mudik yang melelahkan juga dapat bermanifestasi sebagai ketegangan otot, termasuk di area tengkuk. Ini adalah respons alami tubuh terhadap stres fisik.

Oleh karena itu, menjadi penting untuk membedakan apakah nyeri tengkuk yang dialami lebih disebabkan oleh dampak pola makan pasca-Lebaran atau justru merupakan akumulasi dari kebiasaan postur tubuh sehari-hari. Penelusuran penyebab yang akurat akan menentukan penanganan yang tepat.

"Padahal, nyeri tengkuk tidak selalu menjadi tanda kolesterol tinggi," disampaikan oleh seorang praktisi kesehatan, menggarisbawahi perlunya evaluasi lebih lanjut.