MEDIAKOMPETEN.CO.ID - Momen perayaan Lebaran biasanya identik dengan berbagai sajian hidangan lezat yang melimpah di meja makan. Namun, euforia kemenangan ini sering kali memicu perubahan pola makan yang sangat drastis jika dibandingkan dengan rutinitas selama bulan Ramadan.

Kebiasaan sehat yang telah dibangun dengan disiplin selama sebulan penuh cenderung terlupakan begitu saja saat menghadapi hidangan khas hari raya. Banyak orang mulai mengabaikan kontrol porsi demi menikmati kelezatan makanan yang tersaji tanpa memikirkan dampaknya bagi kesehatan.

Para pakar kesehatan mengingatkan bahwa masa transisi setelah bulan suci merupakan waktu yang sangat krusial bagi metabolisme tubuh. Momentum puasa sebenarnya dirancang untuk menjadi landasan awal dalam membentuk pola hidup sehat yang berkelanjutan di masa depan.

"Ibadah puasa semestinya dimanfaatkan sebagai titik awal untuk proses pembersihan racun atau detoksifikasi di dalam tubuh, di mana masyarakat bisa menggunakannya sebagai standar pola makan yang seimbang baik secara rohani maupun kecukupan gizi," ujar Prof. Hardinsyah.

Pernyataan Guru Besar Ilmu Gizi IPB University tersebut disampaikan sebagaimana dilansir dari laman resmi IPB University pada Selasa (24/3/2026). Beliau menekankan pentingnya menjaga konsistensi pola makan meskipun bulan suci telah berakhir.

Salah satu strategi yang dinilai sangat efektif untuk menjaga stabilitas metabolisme serta berat badan adalah dengan menerapkan metode intermittent fasting. Pola ini dianggap mampu membantu tubuh beradaptasi kembali dengan asupan energi yang masuk secara lebih teratur.

Metode ini tidak hanya sekadar mengatur waktu makan, tetapi juga berfokus pada kedisiplinan mengenai jumlah kalori dan jenis nutrisi yang dikonsumsi. Dengan pengaturan jadwal yang tepat, tubuh tidak akan mengalami kejutan akibat perubahan pola konsumsi yang mendadak setelah Lebaran.

Penerapan pola makan yang terstruktur seperti ini terbukti secara ilmiah mampu membantu proses penyusutan kadar lemak jenuh di dalam tubuh. Selain itu, langkah preventif ini juga sangat bermanfaat untuk menekan risiko munculnya penyakit metabolik berbahaya, salah satunya adalah diabetes.

Dengan menjaga ritme makan yang sehat dan teratur, masyarakat diharapkan tetap memiliki kondisi fisik yang bugar dan terhindar dari kenaikan berat badan yang tidak diinginkan. Kedisiplinan dalam mengatur asupan pasca Lebaran menjadi kunci utama dalam mempertahankan kualitas kesehatan yang prima.