MEDIAKOMPETEN.CO.ID - Impian untuk mempertahankan vitalitas tubuh seperti usia muda meski telah memasuki usia senja adalah cita-cita banyak orang. Namun, bagi sebagian individu bergelimang harta, pengejaran umur panjang ini justru menimbulkan konsekuensi psikologis yang serius.

Fenomena ini bahkan telah teridentifikasi sebagai sebuah kondisi psikologis baru yang dikenal sebagai Longevity Fixation Syndrome. Sindrom ini mencerminkan dampak negatif dari obsesi berlebihan terhadap konsep hidup panjang atau longevity.

Perkembangan kondisi ini mulai menjadi sorotan setelah diungkapkan oleh seorang pakar kesehatan eksklusif. Mereka yang terjangkit sindrom ini menunjukkan pola perilaku yang terdistorsi akibat upaya ekstrem menjaga kesehatan.

Jan Gerber, CEO klinis dari Paracelsus Recovery, sebuah klinik eksklusif di Swiss, menyoroti tren ini dalam wawancara dengan NYPost. Ia mengamati bagaimana para pengusaha sukses terperangkap dalam siklus keinginan untuk mencapai keabadian biologis.

Gerber menjelaskan bahwa obsesi ini mendorong para miliarder untuk mengeluarkan biaya fantastis demi terapi pemulihan. Mereka dilaporkan menghabiskan dana hingga 120.000 dolar AS per minggu, setara dengan sekitar Rp1,9 miliar, untuk mengatasi stres yang diakibatkan oleh rutinitas kesehatan mereka sendiri.

"Fenomena para pengusaha sukses terjebak dalam obsesi berlebihan untuk hidup selamanya," ungkap Jan Gerber, CEO klinis eksklusif Paracelsus Recovery di Swiss.

Kondisi Longevity Fixation Syndrome ini sering kali disandingkan dengan gangguan lain yang berhubungan dengan pola makan. Gangguan ini dianggap sebagai evolusi dari orthorexia, yaitu obsesi patologis terhadap konsumsi makanan yang dianggap sehat.

Pasien yang mengalami sindrom ini umumnya menunjukkan gejala klinis yang cukup mengkhawatirkan. Gejala tersebut meliputi kelelahan kronis atau burnout, gejala depresi, serta kesulitan tidur yang parah atau insomnia akut.

Dilansir dari NYPost, biaya perawatan yang tinggi mencerminkan tingkat keparahan tekanan mental yang dialami oleh para pasien tersebut. Stres yang timbul berasal dari tuntutan ketat yang mereka terapkan sendiri demi memperpanjang masa hidup.