MEDIAKOMPETEN.CO.ID - Seorang kreator konten asal Jepang bernama Ken Kenobi baru-baru ini menjadi pusat perhatian publik setelah melakukan siaran langsung (live streaming) di area publik dekat masjid terbesar di Jepang. Aksinya ini seketika memicu perdebatan sengit di berbagai platform media sosial mengenai batasan etika di ruang publik.

Ken Kenobi, yang menggunakan akun X @kenobi__ken, diketahui melancarkan siaran langsung tersebut di trotoar umum yang berhadapan langsung dengan Tokyo Camii. Kejadian ini terjadi sekitar tanggal 20 Maret 2026 dan segera menarik perhatian luas setelah videonya menyebar cepat.

Dalam siaran langsungnya, Ken Kenobi mengaku hanya melakukan aktivitas seperti biasa di ruang publik yang ia anggap bebas untuk siaran. Namun, reaksi dari orang-orang di sekitar lokasi, yang diduga pengunjung atau staf masjid, dilaporkan sangat berbeda.

Kreator tersebut mengklaim bahwa ia menerima teguran keras, bahkan ancaman pemanggilan polisi, dan dituduh melakukan tindakan Islamofobia atau anti-Islam. Ken Kenobi menyatakan keterkejutannya atas respons yang ia terima dari lingkungan sekitar lokasi tersebut.

Video insiden tersebut dengan sangat cepat menjadi viral di platform X, mengumpulkan puluhan ribu interaksi seperti suka, unggahan ulang, dan komentar dalam waktu singkat. Hal ini menunjukkan betapa sensitifnya isu yang diangkat oleh aktivitas siaran langsung tersebut.

Respons dari warganet terbagi tajam; sebagian mendukung kebebasan berekspresi Ken dengan alasan trotoar adalah area umum. Namun, mayoritas lainnya mengkritik keras tindakan tersebut karena dianggap kurang peka terhadap lingkungan tempat ibadah yang memiliki norma tersendiri.

Salah satu pengguna X menyoroti latar belakang lokasi tersebut, "Anda perlu mengetahui sejarah Tokyo Camii sebelum wawancara di sana. Itu adalah aset Kedutaan Besar Turki dan tidak sembarang orang dapat mengambil video dengan bebas. Sama seperti tidak semua orang diizinkan untuk merekam Kedutaan Besar Amerika, bahkan dari luar," ujar @sikasep45.

Kritik lain datang mengenai gangguan yang ditimbulkan, "Anda mengganggu orang, bukan mewawancarai. Periksa definisi wawancara dan pastikan apa yang Anda lakukan adalah pelecehan," kata @Alienmob.

Perdebatan meluas ke ranah etika digital dan sensitivitas terhadap institusi keagamaan, di mana seorang pengguna berkomentar, "Jika Anda memiliki masalah dengan orang-orang yang membangun lembaga keagamaan di Jepang yang bukan berasal dari Jepang, bukankah seharusnya Anda berurusan dengan politisi Anda dan bukan mengganggu orang-orang yang mengikuti hukum dan melakukan apa yang diizinkan oleh hukum?" kata @JS1554404933700.