Jakarta, [Tanggal Hari Ini] – Stabilitas sektor jasa keuangan Indonesia menunjukkan ketahanannya di tengah pusaran dinamika geopolitik global yang masih berlanjut pada awal tahun . Penilaian ini merupakan hasil Rapat Dewan Komisioner (RDK) Otoritas Jasa Keuangan () yang diselenggarakan pada 25 Februari 2026. RDK tersebut mengkaji secara komprehensif berbagai faktor eksternal dan internal yang berpotensi memengaruhi kinerja sektor keuangan nasional.

Pejabat Sementara Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, dalam konferensi pers yang digelar pada Selasa, 3 Maret 2026, memaparkan hasil RDK secara rinci. Ia menyoroti bahwa meskipun perekonomian global menunjukkan sinyal positif dengan penguatan sektor manufaktur dan peningkatan kepercayaan konsumen, tantangan geopolitik dan geoekonomi tetap menjadi perhatian utama.

Tantangan Geopolitik dan Geoekonomi Global

Friderica menekankan bahwa peningkatan tensi geopolitik, khususnya fragmentasi geoekonomi yang terjadi di berbagai belahan dunia, termasuk kawasan Timur Tengah, menjadi faktor risiko yang perlu diwaspadai. Dinamika kebijakan perdagangan di Amerika Serikat juga turut menambah kompleksitas lanskap ekonomi global.

"Rapat Dewan Komisioner OJK pada 25 Februari 2026 menilai stabilitas sektor jasa keuangan tetap terjaga, namun kami tidak menutup mata terhadap potensi risiko yang berasal dari ketidakpastian global," tegas Friderica.

Kinerja Ekonomi AS dan Implikasinya

Lebih lanjut, Friderica menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat pada kuartal IV 2025 tercatat sebesar 1,4%, angka ini berada di bawah ekspektasi pasar. Di sisi lain, tekanan inflasi kembali meningkat, yang kemudian memicu perubahan ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga. Pasar kini cenderung memperkirakan bahwa suku bunga akan bertahan pada level yang lebih tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama (higher for longer).

"Peningkatan tensi geopolitik dan fragmentasi geoekonomi, khususnya di Timur Tengah, serta dinamika kebijakan perdagangan di Amerika Serikat menjadi downside risk yang berpotensi meningkatkan volatilitas di pasar keuangan global," jelasnya. Volatilitas ini dapat memengaruhi berbagai aspek, mulai dari nilai tukar mata uang, harga komoditas, hingga aliran modal investasi.

Resiliensi Sektor Jasa Keuangan Indonesia