Jakarta – Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan signifikan pada perdagangan Rabu sore, terperosok ke level Rp 16.886 per dolar Amerika Serikat (AS). Sentimen negatif yang berasal dari kawasan Timur Tengah dan data ekonomi AS yang dirilis hari ini menjadi katalis utama pelemahan mata uang Garuda ini.

Menurut pengamatan Ibrahim Assuaibi, seorang pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas, rupiah sempat menunjukkan sinyal penguatan di awal perdagangan, naik 12 poin. Namun, momentum tersebut tidak bertahan lama, dan rupiah akhirnya ditutup melemah 23 poin dari posisi sebelumnya di Rp 16.862.

“Pelemahan rupiah sore ini tak lepas dari gejolak di pasar energi, yang dipicu oleh tindakan Iran yang mulai memblokir Selat Hormuz sebagai respons terhadap serangan yang dilakukan oleh AS dan Israel,” ujar Ibrahim dalam keterangannya. Langkah eskalatif Iran ini sontak mengguncang pasar global, memicu kekhawatiran akan terganggunya pasokan energi dunia. Teheran bahkan mengancam akan terus menyerang kapal-kapal di selat strategis tersebut hingga permusuhan terhadap Republik Islam dihentikan.

Selat Hormuz: Jalur Vital Energi Dunia Terancam

Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran minyak dan gas utama bagi negara-negara di Asia. Lebih dari sepertiga minyak mentah yang diperdagangkan secara global melewati selat ini setiap harinya. Gangguan pasokan yang berkepanjangan di Selat Hormuz diperkirakan akan berdampak buruk bagi perekonomian negara-negara yang sangat bergantung pada impor energi, termasuk Indonesia.

Ancaman blokade Selat Hormuz oleh Iran meningkatkan risiko stagflasi global, yaitu kondisi di mana pertumbuhan ekonomi melambat sementara inflasi meningkat. Harga minyak mentah dunia telah melonjak tajam dalam beberapa hari terakhir akibat kekhawatiran ini, dan dampaknya diperkirakan akan merambat ke harga-harga komoditas lainnya.

Retorika Perang dan Ketidakpastian Geopolitik

Selain aksi blokade Selat Hormuz, pernyataan-pernyataan yang saling bertentangan dari para pemimpin AS dan Iran juga turut memperkeruh suasana. Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengklaim bahwa perang dengan Iran akan segera berakhir. Namun, klaim tersebut dibantah oleh Iran, yang menyatakan bahwa Teheran akan menentukan kapan konflik tersebut akan berakhir.

Ketidakpastian geopolitik ini membuat investor global semakin berhati-hati dan cenderung mencari aset-aset yang dianggap aman (safe haven), seperti dolar AS. Permintaan terhadap dolar AS yang meningkat mendorong penguatannya terhadap mata uang negara-negara berkembang, termasuk rupiah.