Jakarta, [Tanggal Hari Ini] – Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan kerentanannya di hadapan ketidakpastian global. Pada penutupan perdagangan Kamis, 5 Maret 2026, mata uang Garuda ini terperosok mendekati level psikologis Rp 17.000, tepatnya berada di posisi Rp 16.903. Pelemahan ini terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran akan eskalasi konflik di Timur Tengah, yang memicu gelombang aksi jual di pasar keuangan global.
"Perdagangan sore ini mencatat pelemahan rupiah sebesar 11 poin, setelah sempat menunjukkan penguatan tipis 10 poin. Rupiah ditutup di level Rp 16.903, dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp 16.892," ungkap Ibrahim Assuaibi, seorang pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas, dalam keterangan resminya.
Pemicu utama pelemahan rupiah kali ini adalah tensi geopolitik yang semakin memanas di Timur Tengah. Serangan rudal Iran ke Israel pada Kamis pagi menjadi katalis yang memicu kepanikan di pasar. Serangan tersebut memaksa jutaan warga sipil mencari perlindungan di bunker-bunker, menandai hari keenam konflik yang berdampak luas.
Situasi diperparah oleh laporan mengenai keterlibatan militer langsung dari berbagai pihak. Pada hari Rabu, 4 Maret, sebuah kapal selam Amerika Serikat dilaporkan menenggelamkan kapal perang Iran di lepas pantai Sri Lanka, menyebabkan puluhan korban jiwa. Selain itu, sistem pertahanan udara NATO berhasil menghancurkan rudal balistik Iran yang mengarah ke wilayah Turki.
"Pasukan Iran juga diduga melakukan serangan terhadap kapal tanker minyak di sekitar Selat Hormuz. Ledakan dilaporkan terjadi di dekat sebuah kapal tanker di lepas pantai Kuwait, menurut laporan dari Operasi Perdagangan Maritim Inggris," lanjut Ibrahim.
Eskalasi konflik ini terjadi pada saat yang krusial. Putra dari pemimpin tertinggi Iran yang telah meninggal dunia muncul sebagai kandidat kuat untuk menggantikannya, mengisyaratkan bahwa Teheran tidak akan menyerah pada tekanan eksternal. Situasi ini berkembang hanya beberapa hari setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan operasi militer yang telah menelan ratusan korban jiwa dan mengguncang stabilitas pasar global.
Dampak Lebih Luas Terhadap Ekonomi Indonesia
Pelemahan rupiah ini bukan hanya sekadar angka di layar monitor. Dampaknya merambat ke berbagai sektor ekonomi Indonesia. Bagi importir, biaya impor barang akan meningkat, yang pada akhirnya dapat mendorong inflasi. Perusahaan-perusahaan yang memiliki utang dalam mata uang asing juga akan merasakan beban yang lebih berat.
Di sisi lain, eksportir mungkin mendapatkan keuntungan dari nilai tukar yang lebih lemah, karena produk mereka menjadi lebih kompetitif di pasar internasional. Namun, keuntungan ini bisa jadi tidak signifikan jika permintaan global juga terpengaruh oleh ketidakpastian geopolitik.