Kasus dugaan ijazah palsu yang menyeret nama Presiden Joko Widodo kembali menghangat setelah Rismon, sosok yang menjadi tersangka dalam kasus ini, menyampaikan permohonan maaf dan klarifikasi terkait temuannya. Pernyataan tersebut diunggah melalui kanal YouTube Balige Academy pada hari Rabu, 11 Maret lalu, dan langsung menjadi sorotan publik.
Dalam klarifikasinya, Rismon mengungkapkan adanya sejumlah temuan baru yang didasarkan pada penelitian ilmiah dan akademik yang ia lakukan. Temuan ini, menurutnya, memiliki implikasi penting terhadap keaslian ijazah Presiden Jokowi. Rismon secara khusus menyoroti beberapa aspek dalam ijazah tersebut, seperti emboss dan watermark, yang menunjukkan konsistensi dan mendukung keaslian dokumen tersebut.
"Setelah melakukan penelitian mendalam dan objektif, saya menemukan indikasi yang kuat bahwa emboss dan watermark pada ijazah Bapak Joko Widodo menunjukkan konsistensi yang signifikan. Hal ini, menurut saya, menjadi bukti penting yang mendukung keaslian ijazah tersebut," ujar Rismon dalam video klarifikasinya.
Lebih lanjut, Rismon menyampaikan permohonan maafnya kepada Presiden Jokowi dan masyarakat luas atas pernyataan-pernyataan sebelumnya yang menimbulkan keraguan terhadap keaslian ijazah tersebut. Ia mengakui bahwa penelitian lebih lanjut telah membawanya pada kesimpulan yang berbeda, dan ia merasa bertanggung jawab untuk mengoreksi kesalahpahaman yang mungkin timbul akibat pernyataannya.
"Sebagai seorang peneliti, saya memiliki tanggung jawab untuk menyampaikan kebenaran berdasarkan data dan fakta yang saya temukan. Setelah melakukan penelitian lebih lanjut, saya menyadari bahwa ada perubahan dalam pemahaman saya tentang ijazah Bapak Joko Widodo. Oleh karena itu, dengan kerendahan hati, saya memohon maaf kepada Bapak Joko Widodo dan seluruh masyarakat Indonesia atas segala keraguan dan kebingungan yang mungkin timbul akibat pernyataan saya sebelumnya," ungkap Rismon.
Permohonan maaf ini, menurut Rismon, merupakan bentuk pertanggungjawaban seorang peneliti yang independen dan berani menghadapi berbagai cercaan dan hinaan. Ia menyadari bahwa posisinya sebagai peneliti seringkali rentan terhadap tekanan dan kritik, namun ia tetap berkomitmen untuk menyampaikan kebenaran berdasarkan data dan fakta yang ia temukan.
"Tentu saja, saya pun meminta maaf kepada publik. Apalagi kepada pihak terkait seperti Bapak Joko Widodo. Inilah pertanggungjawaban seorang peneliti yang harus independen, yang siap dicerca, dihina, dengan narasi-narasi sesuka mereka," tegas Rismon.
Menanggapi permohonan maaf dan klarifikasi dari Rismon, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menyampaikan apresiasinya. Dalam keterangan tertulis yang diterima oleh ANTARA pada Kamis malam, 12 Maret, Gibran menyatakan bahwa bulan Ramadan merupakan momentum yang tepat untuk saling memaafkan dan mempererat tali persaudaraan.
"Bulan Ramadan adalah bulan yang sangat baik untuk saling memaafkan dan kembali merajut tali persaudaraan," kata Gibran.