Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, menanggapi revisi outlook dari lembaga pemeringkat global Fitch Ratings dengan serius dan proaktif. Revisi outlook peringkat utang Indonesia dari stabil menjadi negatif dipandang sebagai momentum penting untuk memperkuat konsistensi kebijakan ekonomi, memperluas basis penerimaan negara, dan mengakselerasi reformasi struktural secara komprehensif.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menekankan bahwa Fitch Ratings tetap mempertahankan peringkat kredit Indonesia pada kategori investment grade ‘BBB’. Hal ini menunjukkan pengakuan atas fundamental ekonomi Indonesia yang solid dan ketahanan terhadap guncangan eksternal.

"Peringkat BBB yang dipertahankan oleh Fitch merupakan validasi atas kekuatan fundamental ekonomi kita. Meskipun demikian, revisi outlook menjadi negatif menjadi pemicu bagi kami untuk bekerja lebih keras dalam menjaga stabilitas ekonomi makro, meningkatkan daya saing, dan menciptakan iklim yang kondusif," ujar Menko Airlangga.

Pemerintah menyadari bahwa revisi outlook ini mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap beberapa aspek ekonomi Indonesia, termasuk tantangan dalam meningkatkan penerimaan negara dan potensi dampak dari ketidakpastian global. Oleh karena itu, pemerintah telah menyiapkan serangkaian langkah strategis untuk mengatasi tantangan tersebut dan memastikan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Faktor-faktor yang Mendukung Peringkat ‘BBB’ Indonesia

Dalam penilaiannya, Fitch secara eksplisit mengakui sejumlah kekuatan fundamental perekonomian Indonesia yang menjadi dasar bagi peringkat ‘BBB’ yang dipertahankan. Kemenko Perekonomian mencatat bahwa laju pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diproyeksikan sekitar 5 persen per tahun merupakan salah satu yang tertinggi di antara negara-negara dengan peringkat sebanding (peers kategori BBB). Bahkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat dua kali lipat dari rata-rata median kelompok tersebut. Hal ini menunjukkan resiliensi ekonomi Indonesia dalam menghadapi tantangan global.

Selain itu, rasio utang pemerintah terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) juga tercatat jauh di bawah median peers. Ini mencerminkan disiplin fiskal yang konsisten dan pengelolaan utang yang hati-hati oleh pemerintah. Pemerintah terus berkomitmen untuk menjaga defisit anggaran dalam batas yang aman dan terkendali, serta mengoptimalkan pemanfaatan utang untuk proyek-proyek produktif yang mendukung pertumbuhan ekonomi.

Fitch juga memberikan penyesuaian kualitatif positif (Qualitative Overlay +1 notch) kepada Indonesia. Ini merupakan pengakuan atas rekam jejak stabilitas makroekonomi yang baik dan prospek pertumbuhan jangka menengah yang kuat. Indonesia dinilai memiliki kemampuan untuk menjaga stabilitas harga, mengendalikan inflasi, dan menjaga nilai tukar rupiah tetap stabil.

Lebih lanjut, Indonesia memiliki rekam jejak yang sangat baik dalam pengelolaan utang publik. Indonesia tercatat tidak pernah melakukan restrukturisasi utang publik selama lebih dari 20 tahun. Hal ini menunjukkan komitmen pemerintah untuk memenuhi kewajiban pembayaran utang secara tepat waktu dan menjaga kredibilitas di mata investor.