Jakarta – Di tengah lanskap ekonomi global yang semakin kompleks dan penuh tantangan, industri perbankan Indonesia menunjukkan resiliensi yang patut diapresiasi. Namun, di balik performa yang solid, kewaspadaan dan strategi antisipatif menjadi kunci untuk menjaga stabilitas dan keberlanjutan pertumbuhan sektor keuangan. Hal ini menjadi fokus utama dalam forum CFO PERBANAS yang bertajuk "Driving Acceleration with Accountability," yang diselenggarakan di Jakarta, Jumat (6/3/).

Forum tersebut menghadirkan tokoh-tokoh penting di sektor keuangan, termasuk Ketua Umum PERBANAS sekaligus Direktur Utama Bank Rakyat Indonesia (), Hery Gunardi, Deputi Komisioner Pengaturan, Perizinan dan Pengendalian Kualitas , Deden Firman Hendarsyah, Ketua Dewan Kehormatan PERBANAS, Agus Martowardojo, serta Ketua Badan Pengawas PERBANAS, Kartika Wirjoatmodjo. Kehadiran para pemangku kepentingan ini menegaskan komitmen PERBANAS untuk terus mendorong pertumbuhan sektor perbankan yang sehat dan berkelanjutan.

Dalam pemaparannya, Hery Gunardi menekankan bahwa fundamental perbankan nasional saat ini masih solid. Indikator-indikator utama menunjukkan tren positif, seperti pertumbuhan kredit yang mencapai 9,96% secara tahunan (YoY) per Januari 2026, meningkat dibandingkan posisi 2025 yang berada di kisaran 9,63% YoY. Pertumbuhan Pihak Ketiga (DPK) juga menggembirakan, mencapai 10,8% (YoY). Selain itu, rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) masih terjaga di level yang terkendali, yaitu sekitar 2,14%. Ketahanan permodalan industri perbankan juga tetap kuat, dengan Capital Adequacy Ratio (CAR) sekitar 25,9%.

Angka-angka ini memberikan gambaran optimis tentang kondisi perbankan Indonesia. Pertumbuhan kredit yang stabil menunjukkan kepercayaan masyarakat dan dunia usaha terhadap sektor perbankan. Peningkatan DPK juga mencerminkan kemampuan perbankan dalam menghimpun dana masyarakat. Sementara itu, NPL yang terkendali dan CAR yang kuat menunjukkan kemampuan perbankan dalam mengelola risiko dan menjaga stabilitas keuangan.

Namun, Hery Gunardi mengingatkan bahwa meskipun fundamental perbankan saat ini solid, industri perbankan tidak boleh terlena. Dinamika ekonomi global yang semakin kompleks menghadirkan berbagai tantangan dan risiko yang perlu diantisipasi. Salah satu tantangan utama adalah ketegangan geopolitik global yang berkepanjangan. Konflik-konflik di berbagai belahan dunia berpotensi mendorong inflasi energi dan harga pangan, yang pada gilirannya akan menekan daya beli masyarakat dan memperlambat aktivitas ekonomi.

Selain itu, ketidakpastian ekonomi global juga dapat menekan kinerja sektor usaha, yang pada akhirnya berpotensi meningkatkan risiko NPL. Jika sektor usaha mengalami kesulitan, kemampuan mereka untuk membayar kembali pinjaman kepada bank juga akan terpengaruh. Oleh karena itu, perbankan perlu lebih selektif dalam menyalurkan kredit dan memperkuat pengelolaan risiko serta kualitas aset.

"Beberapa indikator profitabilitas menghadapi tekanan moderat seiring meningkatnya biaya operasional. Namun demikian, perbankan tetap perlu waspada. Walaupun outlook industri perbankan secara umum masih cukup baik, tapi kita harus tetap antisipatif terhadap berbagai potensi risiko ke depan," tegas Hery.

Pernyataan Hery Gunardi ini menggarisbawahi pentingnya kewaspadaan dan kehati-hatian dalam menghadapi tantangan global. Industri perbankan perlu terus memantau perkembangan ekonomi global dan mengambil langkah-langkah proaktif untuk memitigasi risiko. Hal ini meliputi peningkatan efisiensi operasional, pengelolaan risiko yang lebih ketat, dan diversifikasi portofolio kredit.

Selain itu, perbankan juga perlu berinvestasi dalam teknologi dan inovasi untuk meningkatkan daya saing dan memberikan layanan yang lebih baik kepada nasabah. Transformasi digital menjadi kunci untuk meningkatkan efisiensi, mengurangi biaya operasional, dan menjangkau pasar yang lebih luas.