Ketegangan geopolitik yang meningkat di Timur Tengah, khususnya konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel, telah memicu kekhawatiran global terkait stabilitas jalur pelayaran strategis Selat Hormuz. Selat Hormuz, sebagai jalur sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Samudra Hindia, memegang peranan vital dalam lalu lintas perdagangan minyak dunia dan komoditas lainnya. Setiap gangguan pada jalur ini berpotensi menimbulkan dampak signifikan terhadap ekonomi global, termasuk Indonesia.
Artikel ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam potensi dampak konflik di Timur Tengah terhadap perdagangan Indonesia, dengan fokus pada nilai impor dan ekspor Indonesia dengan negara-negara yang berada di sekitar jalur Selat Hormuz, yaitu Iran, Oman, dan Uni Emirat Arab (UEA). Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) akan digunakan sebagai dasar untuk mengidentifikasi komoditas utama yang diperdagangkan dan memproyeksikan potensi risiko serta peluang yang mungkin timbul akibat eskalasi konflik.
Peran Strategis Selat Hormuz dalam Perdagangan Global dan Indonesia
Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran terpenting di dunia, dilewati oleh sekitar 21 juta barel minyak mentah per hari, atau sekitar 21% dari konsumsi minyak global. Selain minyak, selat ini juga menjadi jalur vital untuk perdagangan komoditas lain seperti gas alam cair (LNG), produk petrokimia, dan barang-barang konsumsi.
Bagi Indonesia, Selat Hormuz memiliki arti penting karena menjadi jalur utama untuk perdagangan dengan negara-negara di Timur Tengah dan sekitarnya. Gangguan pada jalur ini dapat menyebabkan kenaikan biaya transportasi, penundaan pengiriman barang, dan bahkan terganggunya pasokan komoditas tertentu.
Analisis Nilai Perdagangan Indonesia dengan Iran, Oman, dan UEA
Data dari BPS menunjukkan bahwa Indonesia memiliki hubungan perdagangan yang signifikan dengan Iran, Oman, dan UEA. Meskipun nilai perdagangan dengan masing-masing negara berbeda, namun secara keseluruhan kontribusinya terhadap total perdagangan Indonesia cukup relevan.
1. Perdagangan Indonesia dengan Iran:
- Impor dari Iran: Pada tahun 2025, impor nonmigas Indonesia dari Iran tercatat sebesar 8,4 juta dolar AS. Komoditas utama yang diimpor adalah buah-buahan (HS08) senilai 5,9 juta dolar AS, besi dan baja sebesar 0,8 juta dolar AS, serta mesin dan peralatan mekanis (HS84) sebesar 0,7 juta dolar AS.
- Ekspor ke Iran: Ekspor nonmigas Indonesia ke Iran mencapai 249,1 juta dolar AS. Komoditas utama yang diekspor adalah buah-buahan, kendaraan dan bagiannya (HS87), serta lemak dan minyak hewan nabati (HS15).