Jakarta – Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah, PT Pertamina (Persero) menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas pasokan energi nasional. Perusahaan energi pelat merah ini secara intensif memantau perkembangan situasi terkini, khususnya setelah adanya laporan mengenai operasi militer besar-besaran yang melibatkan Amerika Serikat di Iran. Langkah antisipatif ini diambil untuk memastikan operasional perusahaan tetap berjalan lancar dan ketahanan energi Indonesia tetap terjaga di tengah fluktuasi harga minyak global yang semakin dinamis.

Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, menyatakan bahwa pemantauan intensif dilakukan secara berkelanjutan untuk mengantisipasi segala kemungkinan dampak yang mungkin timbul akibat konflik di Timur Tengah. “Pertamina terus memantau perkembangan situasi di wilayah Timur Tengah secara intensif untuk memastikan operasional Pertamina dalam menjaga pasokan energi tetap aman. Keamanan pekerja yang berada di sekitar wilayah tersebut menjadi prioritas utama dan kami akan terus berkoordinasi dengan seluruh pihak terkait,” ujarnya.

Komitmen Pertamina, lanjut Baron, mencakup seluruh rantai bisnis perusahaan, dari kegiatan hulu hingga hilir. Hal ini dilakukan untuk memastikan distribusi energi kepada masyarakat tidak terganggu dan tetap berjalan sebagaimana mestinya. “Pertamina dari Hulu sampai Hilir tetap berkomitmen menyalurkan energi ke masyarakat untuk menjaga ketahanan energi nasional,” tegasnya. Pernyataan ini merupakan respons langsung terhadap kekhawatiran pasar global mengenai potensi gangguan pasokan energi akibat memanasnya tensi politik di kawasan penghasil minyak utama dunia tersebut.

Kondisi geopolitik di Timur Tengah memang tengah menjadi sorotan utama. Para pengamat pasar energi memperingatkan potensi gejolak yang lebih besar setelah Amerika Serikat mengonfirmasi dimulainya operasi militer signifikan di Iran. Langkah ini dinilai berpotensi memicu dampak pasar yang lebih luas dibandingkan ketegangan-ketegangan geopolitik yang terjadi sebelumnya. Hal ini disebabkan karena Iran memiliki peran strategis dalam lalu lintas energi global, khususnya melalui Selat Hormuz yang vital.

Dampak Potensial Lebih Signifikan Dibanding Krisis Venezuela

Konflik yang melibatkan Iran memiliki potensi dampak yang jauh lebih besar dibandingkan krisis di Venezuela. Meskipun Venezuela memiliki cadangan minyak yang besar, produksi minyaknya saat ini jauh di bawah kapasitas maksimalnya. Selain itu, jenis minyak yang dihasilkan Venezuela (minyak mentah berat) hanya diminati oleh kilang-kilang tertentu dengan spesifikasi khusus.

Sebaliknya, Iran memiliki posisi geografis yang sangat strategis dalam jalur distribusi energi global. Selat Hormuz, yang terletak di antara Oman dan Iran, merupakan salah satu jalur laut terpenting di dunia untuk pengiriman minyak. Data menunjukkan bahwa pada tahun 2025, sekitar 13 juta barel minyak mentah per hari diperkirakan melewati selat ini, yang setara dengan sekitar 31% dari total pengiriman minyak mentah global melalui jalur laut. Gangguan terhadap lalu lintas di Selat Hormuz dapat menyebabkan lonjakan harga minyak dunia secara signifikan dan berdampak besar pada perekonomian global.

Para analis pasar berpendapat bahwa risiko terbesar dari konflik di Iran bukanlah pada produksi minyaknya, melainkan pada potensi gangguan terhadap jalur distribusi. Venezuela, menurut mereka, lebih merupakan masalah produksi, sementara Iran adalah masalah jalur distribusi minyak yang sangat rentan.

Ancaman Terhadap Selat Hormuz: Urat Nadi Energi Dunia