Jakarta – Di tengah meningkatnya tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah, khususnya di sekitar Selat Hormuz, PT Pertamina (Persero) mengambil langkah sigap dengan memperketat pengawasan terhadap aset-asetnya yang beroperasi di wilayah tersebut. Selat Hormuz, jalur pelayaran vital yang menghubungkan produsen minyak utama di Timur Tengah dengan pasar global, menjadi perhatian utama setelah muncul kekhawatiran akan potensi penutupan akibat konflik yang berkecamuk.

PT Pertamina International Shipping (PIS), anak perusahaan Pertamina yang bertanggung jawab atas transportasi dan logistik energi, menjadi garda terdepan dalam upaya pengamanan ini. Perusahaan pelat merah ini memastikan keselamatan para pekerja, awak kapal, dan armada yang beroperasi di kawasan tersebut, sembari menjaga kelancaran pasokan energi untuk kebutuhan nasional.

Menurut VP Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, terdapat dua kapal milik PIS yang saat ini berada di dalam kawasan Selat Hormuz. Sementara itu, dua kapal lainnya beroperasi di luar zona rawan tersebut. "Kami terus memantau secara ketat perkembangan situasi dan kondisi seluruh awak kapal. Prioritas utama kami adalah memastikan keselamatan mereka dan juga keamanan aset kapal yang berada di sana," ujar Baron di Graha Pertamina, Jakarta.

Lebih lanjut, Baron menjelaskan bahwa sekitar 19 persen pasokan minyak mentah Pertamina berasal dari Timur Tengah, yang diangkut melalui jalur Selat Hormuz. Gangguan pada jalur pelayaran ini berpotensi mengancam stabilitas pasokan energi dalam negeri. Oleh karena itu, Pertamina terus berkoordinasi dengan berbagai pihak terkait, termasuk Kementerian Luar Negeri, untuk mengamankan aset perusahaan dan keselamatan para pekerja yang bertugas di wilayah tersebut.

PIS juga mengambil langkah proaktif untuk memastikan keselamatan para pekerja dan keluarga yang bertugas di kantor cabang Dubai, PIS Middle East (PIS ME). Pjs Corporate Secretary PIS, Vega Pita, menyatakan bahwa seluruh pekerja dan keluarga dalam kondisi aman. "Kami terus memantau situasi di Dubai dan mengimbau para pekerja untuk mengikuti arahan dari Kedutaan Besar Indonesia, termasuk meningkatkan kewaspadaan dan melaporkan diri ke hotline KBRI atau KJRI jika terjadi situasi darurat," jelas Vega.

Fokus utama PIS saat ini adalah memastikan keselamatan seluruh pekerja dan kru kapal, serta menjaga keamanan operasional armada yang beroperasi di jalur strategis tersebut. Vega menambahkan bahwa terdapat empat kapal PIS yang saat ini berada di kawasan Timur Tengah. Kapal Gamsunoro sedang melakukan proses loading di Khor al Zubair, Irak. Kapal Pertamina Pride telah selesai melakukan loading dan berlabuh di Ras Tanura, Arab Saudi. Sementara itu, kapal PIS Rinjani berlabuh di Khor Fakkan, Uni Emirat Arab, dan kapal PIS Paragon sedang melakukan discharge di Oman.

PIS secara intensif memantau kondisi keamanan keempat kapal tersebut dan berkoordinasi dengan pihak pengelola kapal (Ship Management) serta otoritas maritim setempat untuk meningkatkan kewaspadaan. Perusahaan juga menjalin komunikasi intensif dengan Kementerian Luar Negeri, KBRI Abu Dhabi, dan KJRI Dubai, serta mematuhi himbauan dan arahan yang dikeluarkan.

Dua kapal, Pertamina Pride (dikelola oleh NYK Ship Management) dan Gamsunoro (dikelola oleh Synergy Ship Management), berada di dalam area teluk dan terus dipantau secara real-time untuk memastikan kondisi keamanan. "Kami berupaya agar kedua kapal ini dapat segera keluar dari area teluk. Tim armada kami terus menjalin komunikasi intens dengan pihak pengelola untuk berkoordinasi dan memastikan keselamatan para kru dan kapal," pungkas Vega.

Situasi di Selat Hormuz dan sekitarnya memang memerlukan perhatian dan kewaspadaan ekstra. Pertamina, melalui PIS, menunjukkan komitmennya untuk menjaga kelancaran pasokan energi nasional dengan mengambil langkah-langkah proaktif untuk mengamankan aset dan personelnya di tengah ketidakpastian geopolitik yang ada. Keamanan dan keselamatan menjadi prioritas utama, sembari memastikan bahwa kebutuhan energi dalam negeri tetap terpenuhi. Koordinasi yang baik dengan berbagai pihak terkait menjadi kunci dalam menghadapi tantangan ini, demi menjaga stabilitas energi dan perekonomian Indonesia.