Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) dengan lantang menyuarakan kekhawatiran mendalam mengenai potensi dampak destruktif dari eskalasi konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel terhadap nasib kaum buruh dan stabilitas ekonomi Indonesia. Prospek perang yang membayangi ini bukan hanya sekadar isu geopolitik yang jauh, melainkan ancaman nyata yang dapat meruntuhkan sendi-sendi kehidupan pekerja di tanah air.

Presiden KSPI, Said Iqbal, dalam konferensi pers daring yang diselenggarakan pada Selasa, 3 Maret , dengan tegas menggambarkan skenario suram yang mungkin terjadi jika konflik tersebut benar-benar meletus. Menurutnya, perang akan memicu serangkaian konsekuensi domino yang bermula dari lonjakan harga minyak dunia, merembet ke inflasi, disrupsi perdagangan, dan berujung pada gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) massal.

Efek Domino Harga Minyak: Inflasi dan Beban Hidup yang Semakin Berat

Salah satu kekhawatiran utama yang diungkapkan KSPI adalah potensi meroketnya harga minyak dunia jika konflik Iran-AS-Israel semakin memanas. Kondisi ini diperparah oleh kemungkinan terganggunya jalur pelayaran vital seperti Selat Hormuz, yang merupakan urat nadi perdagangan minyak global. Jika Selat Hormuz terblokir atau terganggu, pasokan minyak dunia akan terhambat, memicu kelangkaan dan spekulasi harga yang tak terkendali.

Kenaikan harga minyak dunia akan berdampak langsung pada harga bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia. Sebagai negara yang masih mengandalkan impor minyak untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, Indonesia sangat rentan terhadap fluktuasi harga minyak global. Kenaikan harga BBM akan memicu efek domino yang merugikan seluruh lapisan masyarakat, terutama kaum buruh dan masyarakat berpenghasilan rendah.

Said Iqbal menjelaskan, "Kalau harga minyak melambung tinggi, BBM di Indonesia ikut naik. Dampaknya, ongkos transportasi dan biaya logistik meningkat. Production cost perusahaan naik, harga jual barang naik, dan terjadi kenaikan harga-harga kebutuhan pokok, apalagi menjelang Lebaran."

Pernyataan ini menggambarkan dengan jelas bagaimana kenaikan harga BBM akan memicu inflasi yang meluas. Ongkos transportasi yang lebih mahal akan meningkatkan biaya distribusi barang dan jasa, sementara biaya logistik yang membengkak akan membebani sektor manufaktur dan perdagangan. Akibatnya, harga barang-barang kebutuhan pokok akan melonjak, semakin memberatkan beban hidup masyarakat, terutama menjelang hari raya Lebaran yang biasanya ditandai dengan peningkatan konsumsi.

Inflasi yang tak terkendali akan menggerogoti daya beli masyarakat, membuat mereka semakin sulit memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan, pakaian, dan perumahan. Kaum buruh, yang umumnya memiliki pendapatan terbatas, akan menjadi kelompok yang paling terpukul oleh dampak inflasi ini. Kenaikan harga barang-barang kebutuhan pokok akan mengurangi kemampuan mereka untuk menabung, berinvestasi, dan meningkatkan kualitas hidup.

Disrupsi Perdagangan: Ekspor Tersendat, Impor Mahal, Industri Terpukul