Jakarta – Dunia dikejutkan oleh eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang memicu gejolak signifikan di pasar minyak global. Perang yang baru saja pecah ini telah menyebabkan harga minyak mentah melonjak hingga 8%, sebuah respons dramatis terhadap ketidakpastian dan kekhawatiran akan gangguan pasokan energi. Kenaikan harga ini menandai babak baru dalam dinamika geopolitik dan ekonomi global, dengan implikasi yang berpotensi luas bagi konsumen, industri, dan stabilitas ekonomi dunia.
Menurut laporan CNBC pada Senin, 2 Maret 2026, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik sebesar USD 5,55 menjadi USD 72,57 per barel pada penutupan perdagangan Minggu, 1 Maret 2026. Lonjakan ini dipicu oleh berita perang yang dimulai pada 28 Februari 2026, yang juga dilaporkan menyebabkan kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Kematian Khamenei menciptakan kekosongan kepemimpinan yang signifikan dan memicu spekulasi intens tentang suksesi politik di Iran.
Ketidakpastian seputar siapa yang akan menggantikan posisi pemimpin di negara produsen minyak terbesar keempat di Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) ini, telah memicu kekhawatiran pasar energi global. Investor dan analis khawatir tentang potensi perubahan kebijakan, gangguan produksi, dan ketidakstabilan politik lebih lanjut yang dapat mengganggu pasokan minyak dunia. Situasi ini diperburuk oleh kompleksitas sistem politik Iran, di mana berbagai faksi dan kelompok kepentingan bersaing untuk mendapatkan pengaruh.
Presiden AS Donald Trump telah mengeluarkan pernyataan tegas yang mengindikasikan bahwa operasi militer tidak akan dihentikan sampai seluruh tujuan AS tercapai. Tujuan ini, menurut berbagai sumber, mencakup denuklirisasi Iran, pembatasan program rudal balistik, dan perubahan perilaku regional yang dianggap mengancam oleh AS dan sekutunya. Meskipun demikian, ada laporan yang menyebutkan bahwa Iran telah menyetujui dialog dengan AS, sebuah perkembangan yang bisa menjadi titik balik dalam konflik ini.
"Mereka ingin berbicara, dan saya telah setuju untuk berbicara, jadi saya akan berbicara dengan mereka," kata Trump, mengisyaratkan potensi pembicaraan damai di tengah konflik yang sedang berlangsung. Namun, banyak analis tetap skeptis tentang prospek negosiasi yang berhasil, mengingat perbedaan yang mendalam dan kurangnya kepercayaan antara kedua belah pihak.
Ancaman Gangguan Selat Hormuz: Jantung Distribusi Minyak Dunia
Salah satu aspek paling mengkhawatirkan dari konflik ini adalah potensi gangguan pengiriman di Selat Hormuz, jalur maritim strategis yang menghubungkan produsen minyak di Timur Tengah dengan pasar global. Selat sempit ini merupakan jalur penting bagi pengangkutan minyak mentah, gas alam cair (LNG), dan produk minyak lainnya. Setiap gangguan signifikan pada lalu lintas maritim di Selat Hormuz dapat memiliki konsekuensi yang menghancurkan bagi ekonomi global.
Analis UBS, Henri Patricot, menekankan pentingnya memantau laju pemulihan lalu lintas melalui Selat Hormuz dan tingkat pembalasan Iran sebagai faktor penentu arah harga minyak dalam beberapa hari mendatang. "Kami memandang laju pemulihan lalu lintas melalui Selat Hormuz dan tingkat pembalasan Iran sebagai kunci bagi harga minyak dalam beberapa hari ke depan," ujar Patricot.
Perusahaan konsultan energi Rystad Energy melaporkan bahwa arus kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz nyaris berhenti total karena perusahaan pelayaran mengambil langkah antisipatif untuk menghindari risiko. Banyak perusahaan pelayaran telah mengalihkan rute kapal mereka atau menunda pengiriman sampai situasi keamanan membaik.