Jakarta, Indonesia – Khalaf Al Habtoor, seorang miliarder terkemuka dari Uni Emirat Arab (UEA) dan tokoh bisnis berpengaruh, secara terbuka melayangkan kritik pedas kepada mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Melalui surat terbuka yang dipublikasikan pada Kamis, 4 Maret 2026, Al Habtoor mempertanyakan kebijakan Trump yang dinilai telah menyeret kawasan Teluk dan Timur Tengah ke dalam pusaran konflik yang berbahaya dengan Iran.
Surat yang ditulis dalam bahasa Arab dan disebarluaskan melalui platform media sosial X, mencerminkan kekhawatiran mendalam Al Habtoor atas dampak destabilisasi yang ditimbulkan oleh tindakan militer Amerika Serikat di wilayah tersebut. Pendiri Al Habtoor Group ini secara lugas mempertanyakan legitimasi dan konsekuensi dari keputusan Trump yang kontroversial.
Dalam suratnya, Al Habtoor mengajukan serangkaian pertanyaan tajam yang menyoroti keraguan tentang proses pengambilan keputusan di balik keterlibatan militer AS. Salah satu poin utama yang diangkat adalah apakah keputusan untuk terlibat dalam konfrontasi dengan Iran merupakan inisiatif pribadi Trump, ataukah dipengaruhi oleh tekanan dari Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu.
"Apakah keputusan ini murni keputusan Anda, ataukah ada pengaruh dari pihak lain yang mendorong Anda ke arah ini?" tanya Al Habtoor dalam suratnya. Pertanyaan ini mengisyaratkan kecurigaan bahwa kepentingan pihak ketiga mungkin telah memicu eskalasi konflik, mengorbankan stabilitas regional dan keamanan negara-negara di kawasan Teluk.
Ketegangan di Timur Tengah mencapai titik didih setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangkaian serangan terhadap Iran pada hari Sabtu. Serangan tersebut secara khusus menargetkan para pemimpin militer senior dan infrastruktur strategis negara tersebut. Aksi ini memicu respons cepat dari Iran, yang meluncurkan serangan balasan dengan rudal dan drone ke berbagai wilayah di kawasan Teluk, termasuk UEA.
Meskipun sebagian besar rudal dan drone Iran berhasil dicegat dan dihancurkan oleh sistem pertahanan udara, insiden ini tetap menimbulkan kecemasan yang meluas dan meningkatkan risiko eskalasi lebih lanjut. UEA, bersama dengan negara-negara tetangganya di kawasan Teluk, dengan tegas menyerukan de-eskalasi dan mendesak semua pihak untuk kembali ke meja perundingan damai.
Al Habtoor, dalam suratnya, mengecam keras tindakan Amerika Serikat yang dianggap telah menempatkan negara-negara Teluk dalam posisi yang sangat rentan dan berbahaya, tanpa persetujuan atau konsultasi sebelumnya. Ia menekankan bahwa negara-negara di kawasan tersebut memiliki hak untuk menentukan nasib mereka sendiri dan tidak boleh menjadi korban dari ambisi geopolitik kekuatan asing.
"Anda telah menempatkan negara-negara Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) dan negara-negara Arab di pusat bahaya yang tidak mereka pilih," tulis Al Habtoor. "Syukurlah, kami kuat dan mampu mempertahankan diri. Kami memiliki tentara dan sistem pertahanan yang melindungi tanah air kami. Namun pertanyaannya tetap sama: siapa yang memberi Anda izin untuk menjadikan kawasan kami sebagai medan perang?"
Pernyataan Al Habtoor mencerminkan sentimen yang berkembang di kalangan pemimpin dan masyarakat di Timur Tengah, yang semakin frustrasi dengan intervensi asing dan konflik berkepanjangan yang telah menghancurkan wilayah tersebut selama bertahun-tahun. Mereka berpendapat bahwa solusi jangka panjang untuk masalah regional hanya dapat dicapai melalui dialog, diplomasi, dan kerjasama, bukan melalui kekerasan dan konfrontasi.