Jakarta – Di tengah kekhawatiran pasar yang dipicu oleh pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dan penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberikan pernyataan tegas untuk menenangkan publik dan investor. Ia meyakinkan bahwa ekonomi Indonesia berada dalam kondisi yang solid dan terus menunjukkan pertumbuhan positif, membantah keras spekulasi mengenai potensi resesi atau krisis ekonomi.
Pernyataan ini disampaikan Menkeu Purbaya saat melakukan kunjungan ke Pasar Tanah Abang, Jakarta, pada Senin (9/3/2025). Kehadirannya di pasar tradisional tersebut bukan hanya sekadar kunjungan biasa, melainkan sebuah simbol komitmen pemerintah untuk terus memantau dan menjaga stabilitas ekonomi di akar rumput. Pasar tradisional, sebagai salah satu indikator denyut nadi ekonomi riil, menjadi perhatian utama pemerintah dalam memastikan daya beli masyarakat tetap terjaga.
Menkeu Purbaya mengakui adanya fluktuasi nilai tukar rupiah yang mendekati level Rp 17.000 per dolar AS dan penurunan IHSG. Namun, ia menekankan bahwa fenomena ini tidak lantas menjadi indikasi terjadinya resesi atau krisis ekonomi seperti yang dikhawatirkan sebagian kalangan. Ia menyayangkan adanya interpretasi negatif dari beberapa ekonom yang membandingkan situasi saat ini dengan krisis ekonomi 1998, yang menurutnya tidak relevan.
"Rupiah 17.000, IHSG anjlok karena sebagian teman-teman ekonom bilang, katanya kita sudah resesi mulai seperti 1998 lagi, ya itulah, daya beli sudah hancur," ujar Menkeu Purbaya, mengutip kekhawatiran yang berkembang di kalangan ekonom dan masyarakat. Namun, ia dengan tegas membantah anggapan tersebut dan memberikan penjelasan yang lebih komprehensif mengenai kondisi ekonomi Indonesia saat ini.
Menurut Menkeu Purbaya, ekonomi Indonesia justru sedang dalam fase ekspansi, bukan kontraksi. Ia menegaskan bahwa pemerintah terus berupaya keras untuk menjaga daya beli masyarakat, yang merupakan kunci utama dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Ia juga meyakinkan bahwa Indonesia masih jauh dari potensi resesi, bahkan belum mengalami perlambatan yang signifikan.
"Tidak seperti itu, ekonomi sedang ekspansi, daya beli kita jaga mati-matian, dan boro-boro krisis, jangankan krisis, resesi aja belum, melambatnya aja belum, kita masih ekspansi, masih akselerasi. Itu yang kita jaga terus dalam beberapa minggu ke depan," tegasnya.
Pernyataan Menkeu Purbaya ini merupakan upaya strategis untuk meredam kepanikan pasar dan menjaga kepercayaan investor terhadap ekonomi Indonesia. Ia menyadari bahwa sentimen pasar dapat sangat mempengaruhi stabilitas ekonomi, sehingga penting untuk memberikan informasi yang akurat dan meyakinkan.
Lebih lanjut, Menkeu Purbaya mengajak para investor saham untuk tetap tenang dan tidak terpancing oleh sentimen negatif yang beredar. Ia mengingatkan bahwa Indonesia telah melewati berbagai krisis ekonomi di masa lalu, termasuk krisis 1998, krisis keuangan global 2008-2009, dan pandemi Covid-19 pada tahun 2020. Pengalaman-pengalaman tersebut telah memberikan pelajaran berharga bagi pemerintah dalam mengelola ekonomi dan menghadapi berbagai gejolak.
"Jadi, teman-teman enggak usah takut. Kita sudah punya pengalaman dan pengetahuan yang cukup untuk memitigasi segala gejolak yang terjadi, tentunya dengan langkah-langkah yang diperlukan. Yang jelas, kalau pengalaman 2008, 2020, 2015, kita bisa menjaga momentum pertumbuhan ekonomi," jelasnya.