Jakarta – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melakukan kunjungan mendadak (blusukan) ke Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, pada Senin, 9 Maret 2026. Kunjungan ini dilakukan di tengah suasana Ramadan, saat mayoritas masyarakat menjalankan ibadah puasa. Kehadiran Purbaya di pasar tekstil terbesar di Asia Tenggara ini sontak menarik perhatian para pedagang dan pengunjung yang tengah beraktivitas.
Kedatangan Purbaya bukan tanpa tujuan. Sebagai pemegang tampuk keuangan negara, ia ingin melihat langsung denyut nadi perekonomian di tingkat akar rumput. Pasar Tanah Abang, dengan perputaran uang yang masif dan peranannya sebagai pusat grosir berbagai produk, menjadi barometer penting bagi kondisi ekonomi nasional.
Setibanya di lokasi, Purbaya langsung disambut kerumunan orang. Ia tidak canggung berbaur dengan masyarakat, menyalami pedagang, dan menyapa para pembeli. Dalam kunjungannya yang berlangsung sekitar dua jam tersebut, Purbaya menyempatkan diri berkeliling ke sejumlah toko, berdialog dengan para pemilik usaha, dan mendengarkan keluh kesah mereka.
"Saya ingin mendengar langsung dari para pedagang, apa saja tantangan yang mereka hadapi, dan apa yang bisa pemerintah lakukan untuk membantu mereka," ujar Purbaya kepada awak media yang turut serta dalam blusukan tersebut.
Blusukan di tengah teriknya matahari dan suasana Ramadan rupanya cukup menguras tenaga Purbaya. Usai berkeliling dan berinteraksi dengan banyak orang, ia mengaku merasa haus. "Pertama, haus nih," katanya sembari tersenyum, menunjukkan gestur kelelahan. Meski demikian, ia tetap bersemangat melanjutkan kunjungannya.
Diserbu Pengunjung dan Pedagang
Kedatangan Purbaya di Pasar Tanah Abang memang menjadi magnet bagi banyak orang. Pengunjung yang tengah berbelanja langsung mengerubunginya, berusaha mendekat dan berinteraksi. Beberapa ibu-ibu tak menyia-nyiakan kesempatan untuk berfoto bersama sang Menteri Keuangan. Ada pula yang memanfaatkan momen tersebut untuk menyampaikan aspirasi dan harapan mereka terkait kondisi ekonomi.
"Pak Menteri, tolong perhatikan nasib kami para pedagang kecil," ujar seorang ibu yang berjualan pakaian anak-anak. "Harga bahan baku semakin mahal, sementara daya beli masyarakat menurun. Kami berharap pemerintah bisa memberikan solusi."
Purbaya dengan sabar mendengarkan setiap keluhan dan masukan yang disampaikan. Ia berjanji akan menampung semua aspirasi tersebut dan menjadikannya sebagai bahan pertimbangan dalam penyusunan kebijakan ekonomi.