Ketegangan yang terus meningkat antara Amerika Serikat dan Iran menjadi sorotan utama dalam laporan terbaru dari DBS, yang menggarisbawahi potensi dampak destabilisasi yang signifikan terhadap lanskap geopolitik global dan pasar keuangan. Laporan tersebut, berjudul "Market Pulse" dan dirilis pada Senin, 2 Maret , mengupas tuntas eskalasi konflik yang mengkhawatirkan ini dan menganalisis konsekuensi yang mungkin timbul.

Laporan DBS menyoroti bahwa konflik yang dipicu oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran memiliki karakteristik yang berbeda secara fundamental dibandingkan dengan konflik-konflik besar sebelumnya yang pernah disaksikan dunia. Perbedaan utama terletak pada sifat konflik itu sendiri. Konflik ini bukan lagi sekadar tindakan pre-emptive, melainkan sebuah kampanye militer yang tampaknya ditujukan untuk perubahan rezim di Iran. Yang lebih mengkhawatirkan adalah kurangnya dukungan tradisional dari sekutu-sekutu Eropa, yang biasanya menjadi pilar kekuatan bagi kebijakan luar negeri Amerika Serikat.

Ketiadaan strategi akhir yang jelas dan terdefinisi dengan baik dalam konflik ini menimbulkan pertanyaan serius tentang durasi dan intensitas konflik. Hal ini secara signifikan meningkatkan risiko keterlibatan berkepanjangan, yang dapat menyeret berbagai aktor regional dan internasional ke dalam pusaran konflik yang lebih luas dan kompleks. Potensi eskalasi yang tak terkendali menjadi kekhawatiran yang sangat nyata.

Dari perspektif pasar keuangan, fokus utama terletak pada pasar energi global, yang sangat rentan terhadap guncangan geopolitik. Iran memainkan peran penting dalam pasar minyak global, memproduksi sekitar 3% dari total pasokan minyak dunia. Lebih lanjut, Iran adalah produsen minyak terbesar keempat di antara negara-negara anggota OPEC (Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak). Namun, faktor yang paling krusial dan menentukan adalah potensi penutupan Selat Hormuz, sebuah jalur strategis vital yang menjadi urat nadi perdagangan energi global.

Selat Hormuz adalah jalur maritim sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Samudra Hindia. Selat ini merupakan jalur transit yang sangat penting bagi sekitar seperlima dari total perdagangan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dunia. Setiap gangguan terhadap lalu lintas maritim di Selat Hormuz dapat memiliki konsekuensi yang mengerikan bagi pasokan energi global dan stabilitas ekonomi.

DBS memperingatkan dengan tegas bahwa jika terjadi blokade penuh di Selat Hormuz, gangguan pasokan energi akan sangat signifikan. Bahkan kapasitas cadangan minyak yang dimiliki oleh negara-negara Teluk, yang merupakan produsen minyak utama dunia, tetap harus melewati Selat Hormuz untuk mencapai pasar global. Oleh karena itu, blokade Selat Hormuz akan secara efektif memutus akses ke sebagian besar pasokan minyak dari wilayah tersebut.

Amerika Serikat, sebagai kekuatan ekonomi dan militer terbesar di dunia, secara teoritis dapat memanfaatkan cadangan strategis minyaknya untuk mengatasi kekurangan pasokan. Namun, DBS berpendapat bahwa dalam krisis skala besar, langkah ini tidak akan cukup untuk sepenuhnya menutupi kekurangan pasokan global yang disebabkan oleh penutupan Selat Hormuz. Cadangan strategis minyak Amerika Serikat memiliki kapasitas yang terbatas dan tidak dapat menggantikan volume minyak yang sangat besar yang biasanya melewati Selat Hormuz.

Implikasi dari konflik AS-Iran dan potensi penutupan Selat Hormuz meluas jauh melampaui pasar energi. Kenaikan harga minyak yang tajam dapat memicu inflasi global, mengurangi daya beli konsumen, dan menghambat pertumbuhan ekonomi. Selain itu, ketidakpastian geopolitik yang meningkat dapat memicu pelarian modal ke aset-aset yang dianggap aman (safe-haven assets), seperti obligasi pemerintah dan emas, yang dapat mengganggu pasar keuangan dan mengurangi di sektor-sektor yang lebih berisiko.

Konflik ini juga dapat memperburuk ketegangan regional dan memicu konflik proksi antara AS dan Iran di berbagai negara di Timur Tengah. Hal ini dapat menyebabkan destabilisasi lebih lanjut di wilayah tersebut, yang sudah dilanda konflik dan ketidakstabilan selama bertahun-tahun.