Jakarta – Dalam upaya memperkokoh ketahanan energi nasional di tengah dinamika geopolitik global yang semakin kompleks, Presiden telah menginstruksikan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, untuk mempercepat pembangunan fasilitas penyimpanan (storage) minyak mentah. Langkah strategis ini bertujuan untuk meningkatkan secara signifikan kapasitas cadangan energi nasional, sehingga Indonesia mampu menghadapi berbagai potensi guncangan pasokan dan fluktuasi harga minyak dunia.

Instruksi presiden ini mencerminkan kesadaran mendalam akan pentingnya kemandirian energi bagi keberlangsungan pembangunan ekonomi dan stabilitas nasional. Ketergantungan yang tinggi pada impor energi, khususnya minyak mentah, membuat Indonesia rentan terhadap perubahan harga dan gangguan pasokan yang dapat dipicu oleh berbagai faktor eksternal, mulai dari konflik geopolitik hingga bencana alam. Dengan memperkuat cadangan energi nasional, Indonesia akan memiliki ruang gerak yang lebih luas dalam menghadapi situasi krisis dan menjaga stabilitas harga energi di dalam negeri.

Saat ini, kapasitas penyimpanan minyak mentah Indonesia hanya mampu menampung kebutuhan sekitar 25 hingga 26 hari. Angka ini jauh tertinggal dibandingkan dengan negara-negara tetangga di kawasan Asia Tenggara, apalagi jika dibandingkan dengan negara-negara maju. Kondisi ini menempatkan Indonesia pada posisi yang kurang menguntungkan dalam menghadapi potensi krisis energi.

Menyadari urgensi permasalahan ini, pemerintah menargetkan peningkatan kapasitas cadangan minyak mentah hingga mencapai 90 hari atau sekitar tiga bulan. Target ambisius ini akan dicapai melalui pembangunan fasilitas penyimpanan baru yang tersebar di berbagai lokasi strategis di seluruh Indonesia. Pembangunan infrastruktur ini akan melibatkan yang signifikan dan membutuhkan koordinasi yang erat antara berbagai pihak terkait, termasuk pemerintah pusat, pemerintah daerah, , dan sektor swasta.

Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, menegaskan komitmennya untuk menjalankan instruksi presiden dengan sebaik-baiknya. Ia menyadari bahwa keterbatasan kapasitas penyimpanan minyak mentah merupakan tantangan utama dalam upaya memperbesar cadangan bahan bakar minyak (BBM) nasional.

"Bapak Presiden memberikan arahan agar segera bangun (storage). Kita butuh survival. Kalau tidak, nanti kita tergantung terus," ujar Bahlil, menekankan pentingnya kemandirian energi bagi Indonesia. Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa peningkatan kapasitas penyimpanan minyak mentah bukan hanya sekadar upaya untuk memenuhi kebutuhan energi dalam jangka pendek, tetapi juga merupakan investasi strategis untuk masa depan Indonesia.

Menurut Bahlil, daya tampung BBM nasional selama ini memang berada di kisaran maksimal 25 hari. Akibatnya, standar minimal cadangan BBM nasional hanya berkisar antara 20 hingga 23 hari. Kondisi ini menempatkan Indonesia pada posisi yang rentan terhadap fluktuasi harga minyak dunia dan potensi gangguan pasokan.

"Saya sampaikan bahwa kemampuan daya tampung BBM kita sudah sejak lama hanya maksimal 25 hari, maksimal. Sehingga cadangan nasional kita itu minimal 20 sampai 23 hari," jelasnya.

Strategi Pembangunan Fasilitas Penyimpanan Minyak Mentah