Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah () seringkali disebut sebagai tulang punggung perekonomian Indonesia. Sektor ini, yang menyerap jutaan tenaga kerja dan menyumbang kontribusi signifikan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), memiliki potensi yang sangat besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Namun, potensi ini seringkali terhambat oleh berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan akses modal, kesulitan menembus pasar, hingga kurangnya pemahaman mengenai manajemen bisnis modern. Menyikapi kondisi ini, Amar Bank, sebuah lembaga keuangan yang fokus pada layanan digital, bertekad untuk "membangunkan" para pelaku UMKM, yang dianggap sebagai "sleeping giant" atau raksasa yang tertidur dalam lanskap ekonomi Indonesia.

Amar Bank meyakini bahwa dengan mengatasi hambatan-hambatan yang ada, sektor UMKM dapat menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi yang signifikan. Kebangkitan sektor ini bukan hanya akan memberikan dampak positif bagi para pelaku usaha itu sendiri, tetapi juga akan menciptakan efek berganda yang luas bagi perekonomian secara keseluruhan. Dampaknya bisa dirasakan mulai dari peningkatan pendapatan masyarakat, penciptaan lapangan kerja baru, hingga peningkatan daya saing produk-produk lokal di pasar global.

Josua Sloane Solagracia, Senior Vice President of MSME di Amar Bank, menjelaskan bahwa kebangkitan UMKM dapat diukur dari pencapaian target-target pengembangan sektor tersebut. Salah satu indikator awal yang dapat digunakan adalah peningkatan kontribusi atau akses UMKM, yang ditargetkan berada di kisaran 20% hingga 30%. Ketika target ini tercapai, maka proses "awakening" atau kebangkitan UMKM sudah mulai terlihat.

"Kalau kita sudah punya aspirasi untuk meng-unlock UMKM dan kita bisa mencapai target 30%, itu sudah bisa disebut sebagai awakened," ujar Josua dalam sebuah diskusi di Amar Space. Pernyataan ini mencerminkan komitmen Amar Bank untuk tidak hanya memberikan akses modal kepada UMKM, tetapi juga untuk memberdayakan mereka agar dapat tumbuh dan berkembang secara berkelanjutan.

Dalam upaya membangunkan potensi UMKM, Amar Bank telah melakukan berbagai inisiatif, termasuk pengembangan produk dan layanan keuangan yang dirancang khusus untuk memenuhi kebutuhan pelaku usaha mikro. Saat ini, sekitar 60% portofolio pembiayaan Amar Bank berasal dari segmen mikro, dengan jumlah nasabah mencapai sekitar 400 ribu pelaku usaha. Angka ini menunjukkan bahwa Amar Bank telah berhasil menjangkau sebagian besar pelaku UMKM di Indonesia.

Namun, tantangan yang dihadapi Amar Bank saat ini adalah bagaimana melakukan scale up atau meningkatkan skala bisnis para pelaku UMKM yang telah menjadi nasabahnya. Hal ini terutama berlaku untuk UMKM yang membutuhkan ticket size atau jumlah pinjaman yang lebih besar. Untuk mengatasi tantangan ini, Amar Bank telah mengembangkan aplikasi Ambis (Amar Business), yang bertujuan untuk menjangkau lebih banyak UMKM dan menyediakan akses ke berbagai layanan keuangan dan non-keuangan yang dibutuhkan untuk mengembangkan bisnis mereka.

Aplikasi Ambis bukan hanya sekadar platform pinjaman online. Lebih dari itu, aplikasi ini dirancang sebagai ekosistem digital yang komprehensif untuk mendukung pertumbuhan UMKM. Melalui aplikasi ini, pelaku UMKM dapat mengakses berbagai informasi dan sumber daya yang berguna, seperti tips manajemen bisnis, pelatihan keterampilan, dan informasi pasar. Selain itu, aplikasi Ambis juga menyediakan fitur-fitur yang memudahkan pelaku UMKM untuk mengelola keuangan mereka, seperti pencatatan transaksi, pembuatan , dan pembayaran tagihan.

Josua menekankan besarnya dampak ekonomi dari sektor UMKM. Dengan kontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB) yang mencapai sekitar 60%, aktivitas ekonomi di sektor ini memiliki efek pengganda yang besar terhadap perekonomian. Efek pengganda ini terjadi karena setiap transaksi yang dilakukan oleh UMKM akan menghasilkan pendapatan bagi pihak lain, yang kemudian akan mereka belanjakan untuk membeli barang dan jasa, dan seterusnya.

Sebagai contoh, transaksi sederhana di warung dapat menghasilkan efek ekonomi berantai yang signifikan. Ketika seseorang berbelanja di warung, uang yang mereka keluarkan akan menjadi pendapatan bagi pemilik warung. Pemilik warung kemudian akan menggunakan uang tersebut untuk membeli bahan baku dari pemasok, membayar gaji karyawan, dan membayar sewa tempat usaha. Pemasok dan karyawan warung kemudian akan menggunakan pendapatan mereka untuk membeli barang dan jasa lainnya, dan seterusnya.