Jakarta – Pemerintah Indonesia tengah mengambil langkah strategis dalam mengembangkan industri semikonduktor nasional, sebuah sektor yang semakin krusial di era digital ini. Alih-alih hanya berfokus pada pembangunan fasilitas manufaktur yang bergantung pada teknologi asing, pemerintah memilih pendekatan yang lebih mendasar dan berkelanjutan, yaitu penguatan sumber daya manusia (SDM) di bidang semikonduktor. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan bahwa strategi ini bertujuan untuk membangun kedaulatan teknologi dan menghindari ketergantungan pada negara lain.

Dalam acara Pembekalan Nasional Talenta Semikonduktor yang diadakan pada Kamis, 5 Maret , Airlangga menjelaskan bahwa pendekatan berbasis SDM ini adalah kunci untuk memastikan industri semikonduktor Indonesia memiliki fondasi yang kuat dan mampu bersaing di pasar global. "Indonesia memilih untuk yang berbeda dibandingkan pengembangan yang lain, karena salah satu yang bisa kita temukan adalah membangun foundry dari silika sand. Tetapi ini manufaktur yang tetap akan menggantungkan teknologinya pada luar negeri," ujarnya.

Pernyataan ini menggarisbawahi kekhawatiran pemerintah terhadap model pengembangan industri yang hanya berfokus pada manufaktur tanpa transfer teknologi yang signifikan. Model seperti itu, menurut Airlangga, berpotensi menjadikan Indonesia sebagai sekadar perakit dan penguji, tanpa memiliki kemampuan teknologi yang mendalam.

Belajar dari Pengalaman Masa Lalu

Keputusan untuk fokus pada pengembangan SDM juga didasari oleh pengalaman pahit di masa lalu. Pada era 1980-an, industri elektronik Indonesia hanya berperan dalam tahap perakitan dan pengujian, bergantung sepenuhnya pada perusahaan asing seperti Fairchild. Ketika perusahaan tersebut menghentikan operasinya, industri dalam negeri yang bergantung padanya ikut terpuruk.

"Nah, khusus untuk semikonduktor itu kita hindari. Kita ingin membangun kemampuan SDM dalam negeri dan ini untuk tidak mengulangi kesalahan pada tahun 80an di mana kita hanya menggantungkan kepada assembling, testing, packaging dari Fairchild," tutur Airlangga.

Pengalaman ini menjadi pelajaran berharga bagi pemerintah untuk tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi jangka pendek, tetapi juga membangun industri yang berkelanjutan dan mandiri. Ketergantungan pada teknologi asing tidak hanya membuat industri rentan terhadap perubahan kebijakan atau kondisi ekonomi global, tetapi juga menghambat inovasi dan pengembangan teknologi di dalam negeri.

dalam Talenta dan Ekosistem Pendidikan

Untuk mewujudkan visi kedaulatan teknologi, pemerintah berencana untuk melakukan investasi besar-besaran dalam pengembangan talenta dan ekosistem pendidikan di bidang semikonduktor. Ini meliputi peningkatan kualitas kurikulum di perguruan tinggi dan vokasi, penyediaan beasiswa untuk studi di dalam dan luar negeri, serta pelatihan dan sertifikasi bagi para profesional di industri semikonduktor.