Eskalasi konflik di Timur Tengah, dengan pusaran utama melibatkan Iran dan Israel yang mendapatkan dukungan dari Amerika Serikat (AS), berpotensi menjadi gelombang kejut eksternal yang dahsyat bagi dunia usaha di Indonesia. Dampak yang paling mengkhawatirkan adalah terganggunya stabilitas energi dan kelancaran logistik, terutama jika Selat Hormuz sampai ditutup sebagai akibat dari konflik yang semakin memanas. Selat Hormuz, sebagai jalur vital perdagangan energi global, memiliki peran krusial dalam menjaga stabilitas ekonomi dunia, termasuk Indonesia.

Sekretaris Jenderal Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), Anggawira, menekankan bahwa kawasan Timur Tengah adalah episentrum produksi energi global. Oleh karena itu, setiap gangguan, sekecil apapun, termasuk penutupan Selat Hormuz, akan berdampak signifikan terhadap stabilitas biaya produksi di tingkat nasional. Implikasinya bisa sangat luas, mulai dari kenaikan harga bahan baku, biaya transportasi, hingga potensi inflasi yang dapat menggerogoti daya saing industri Indonesia.

"HIPMI melihat eskalasi konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah sebagai sebuah ancaman nyata bagi stabilitas ekonomi Indonesia. Gangguan pada rantai pasok energi dan logistik dapat memicu efek domino yang merugikan berbagai sektor usaha, terutama yang sangat bergantung pada kelancaran distribusi dan harga energi yang stabil," ujar Anggawira kepada Liputan6.com, Minggu (1/3/).

Anggawira menjelaskan, sekitar 30% pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz, menjadikannya jalur strategis yang tak tergantikan. Selain itu, lebih dari 20% perdagangan Liquefied Natural Gas (LNG) global juga berasal dari kawasan Timur Tengah. Bagi Indonesia, yang masih mengimpor sekitar 750-800 ribu barel minyak per hari, ketergantungan ini membuat negara sangat rentan terhadap gejolak harga energi global. Kenaikan harga minyak dunia akan secara langsung memengaruhi biaya produksi, transportasi, dan akhirnya harga jual barang dan jasa di dalam negeri.

Dampak Langsung pada Harga Minyak dan Subsidi Energi

Salah satu dampak paling langsung dari konflik di Timur Tengah adalah potensi lonjakan harga minyak mentah dunia. Anggawira memperkirakan bahwa harga Brent, sebagai salah satu patokan harga minyak dunia, berpotensi menembus level USD 100 per barel jika konflik terus memanas dan mengganggu pasokan dari Timur Tengah. Kenaikan harga minyak mentah dunia ini akan otomatis mendorong kenaikan Indonesian Crude Price (ICP), yang menjadi acuan harga minyak mentah Indonesia.

Kenaikan ICP akan memberikan tekanan besar pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), terutama karena pemerintah masih memberikan subsidi energi untuk menjaga harga bahan bakar minyak (BBM) dan listrik tetap terjangkau bagi masyarakat. Jika harga minyak dunia terus melonjak, pemerintah harus mengalokasikan anggaran yang lebih besar untuk subsidi energi, yang pada akhirnya dapat mengurangi anggaran untuk sektor-sektor lain yang lebih produktif, seperti infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan.

Lonjakan Biaya Logistik dan Transportasi

Selain berdampak pada harga energi, konflik di Timur Tengah juga berpotensi mengganggu kelancaran logistik dan transportasi. Penutupan Selat Hormuz, misalnya, akan memaksa kapal-kapal tanker minyak dan kapal-kapal kargo untuk mencari rute alternatif yang lebih panjang dan mahal. Hal ini akan meningkatkan biaya pengiriman barang, yang pada akhirnya akan dibebankan kepada konsumen.