MEDIAKOMPETEN.CO.ID - Hubungan kemitraan strategis antara raksasa teknologi Microsoft dan pengembang kecerdasan buatan OpenAI kini dilaporkan mengalami friksi yang signifikan. Ketegangan ini muncul akibat adanya potensi pelanggaran serius terhadap kesepakatan cloud yang telah mengikat kedua belah pihak sebelumnya.
Kabar terbaru mengindikasikan bahwa Microsoft tengah mempertimbangkan opsi untuk mengambil langkah hukum secara formal. Dasar dari pertimbangan ini adalah adanya kesepakatan baru yang terjalin antara OpenAI dengan pesaing utama Microsoft di sektor komputasi awan, yakni Amazon.
Perselisihan ini berpusat pada nilai fantastis dari kemitraan yang baru terbentuk antara OpenAI dan Amazon, yang dikabarkan mencapai angka 50 miliar USD. Kesepakatan finansial yang besar ini jelas memicu alarm di pihak Microsoft terkait komitmen eksklusivitas.
Melalui perjanjian dengan Amazon ini, OpenAI berencana untuk menawarkan produk komersial terbarunya yang dikenal dengan nama sandi Frontier kepada para pelanggannya. Penawaran ini menggunakan infrastruktur komputasi awan milik Amazon Web Services (AWS).
Namun, langkah OpenAI ini diperkirakan akan langsung bertabrakan dengan klausul dalam perjanjian eksklusif yang sudah ada dengan Microsoft. Perjanjian tersebut secara spesifik mengatur mengenai ketersediaan platform dan model AI.
Perjanjian yang mengikat OpenAI dengan Microsoft tersebut secara tegas mewajibkan bahwa semua model kecerdasan buatan yang dikembangkan oleh OpenAI harus secara eksklusif hanya dapat diakses melalui platform cloud Azure milik Microsoft. Inilah titik konflik utamanya.
Microsoft dan OpenAI baru-baru ini telah menegaskan kembali komitmen mereka dalam sebuah pengumuman bersama. Pengumuman tersebut menekankan bahwa Azure akan terus memegang status sebagai penyedia layanan cloud eksklusif untuk seluruh Application Programming Interface (API) yang ditawarkan oleh OpenAI.
"Microsoft kabarnya sedang mempertimbangkan mengambil tindakan hukum terkait kesepakatan baru OpenAI dengan Amazon yang berpotensi melanggar perjanjian cloud eksklusif," demikian inti dari situasi yang berkembang di antara tiga perusahaan teknologi besar tersebut.
Hal ini menunjukkan adanya potensi keretakan dalam aliansi strategis yang sebelumnya dianggap sangat kuat, terutama dalam konteks perlombaan pengembangan dan komersialisasi teknologi kecerdasan buatan terkini.