Mantan Wakil Presiden Republik Indonesia, Jusuf Kalla, memberikan pandangannya terkait potensi dampak dari konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran terhadap perekonomian Indonesia, khususnya dalam sektor energi. Kalla memperingatkan bahwa eskalasi ketegangan dan serangan yang melibatkan ketiga negara tersebut dapat memicu kenaikan harga minyak dunia secara signifikan dan berpotensi menyebabkan kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) di Indonesia.
Pernyataan Kalla ini muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran global terhadap stabilitas di kawasan Timur Tengah. Konflik yang berkepanjangan di wilayah tersebut, yang merupakan sumber utama minyak dunia, selalu membawa risiko terhadap fluktuasi harga dan ketersediaan pasokan energi global. Ketergantungan Indonesia pada impor minyak dari Timur Tengah menjadikan negara ini sangat rentan terhadap gejolak politik dan keamanan di kawasan tersebut.
Menurut Kalla, serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran dapat mengganggu jalur impor minyak Indonesia dari Timur Tengah. Ia menekankan bahwa Indonesia selama ini mengandalkan impor minyak dari kawasan tersebut untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Jika akses impor terputus akibat konflik, maka Indonesia akan menghadapi tantangan besar dalam memenuhi kebutuhan energi masyarakat dan industri.
"Tentu harga minyak naik. Pasti, itu pertama," ujar Kalla, dikutip dari Antara, Senin (2 Maret 2026). Pernyataan ini menggarisbawahi keyakinannya bahwa eskalasi konflik akan secara langsung berdampak pada harga minyak dunia. Kenaikan harga minyak akan memicu inflasi dan membebani perekonomian Indonesia secara keseluruhan.
Lebih lanjut, Kalla menjelaskan bahwa gangguan suplai minyak tidak hanya akan berdampak pada harga, tetapi juga pada ketersediaan BBM di Indonesia. Ia menyoroti bahwa Iran, sebagai salah satu aktor utama dalam konflik ini, berpotensi melakukan serangan balasan terhadap negara-negara di sekitarnya yang memiliki pangkalan militer Amerika Serikat, seperti Kuwait, Qatar, Uni Emirat Arab (UEA), dan Arab Saudi. Serangan semacam itu dapat mengganggu produksi dan distribusi minyak dari negara-negara tersebut, yang pada gilirannya akan memperparah krisis pasokan global.
"Iran menyerang Kuwait, Doha (Qatar, red.), dan Dubai (UEA, red.) karena di situ ada pangkalan Amerika. Efeknya ke negara itu. Nah itu yang akan terjadi semua. Satu hari ini kelihatan belum terasa, tetapi satu minggu akan terasa," jelas Kalla. Ia memperingatkan bahwa dampak dari konflik ini mungkin tidak akan terasa secara langsung, tetapi akan menjadi semakin nyata dalam beberapa minggu mendatang.
Kalla mendesak pemerintah Indonesia untuk mengambil langkah-langkah antisipatif guna menghadapi potensi krisis energi akibat konflik ini. Ia mengingatkan bahwa stok BBM Indonesia rata-rata hanya cukup untuk tiga minggu. Jika suplai dari Timur Tengah terputus dalam jangka waktu yang lebih lama, maka Indonesia akan menghadapi kelangkaan BBM yang serius.
"Rata-rata persediaan kita tiga minggu. Jadi, setelah itu mungkin masih ada di Singapura. Akan tetapi, suplai dari Saudi, Iran, ataupun Kuwait itu sekarang pasti terputus," kata Kalla.
Implikasi Lebih Luas bagi Perekonomian Indonesia