Jakarta – Di tengah eskalasi ketegangan geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran, kekhawatiran akan potensi gangguan terhadap pasokan energi global meningkat. Menanggapi hal ini, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, memberikan pernyataan tegas untuk meyakinkan masyarakat Indonesia bahwa stok Bahan Bakar Minyak (BBM) nasional dalam kondisi aman dan terkendali. Bahlil mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan menghindari perilaku panic buying yang dapat memicu ketidakstabilan pasar.

Pernyataan ini disampaikan Bahlil saat berada di Kantor Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar pada hari Jumat, (6/3/). Ia menekankan bahwa kapasitas penampungan minyak nasional saat ini berada pada level yang aman, yaitu setara dengan 23 hari kebutuhan. Angka ini, menurut Bahlil, berada di atas standar minimal ketersediaan yang ditetapkan untuk kebutuhan nasional, yaitu di atas 20 hari.

"Standar minimal ketersediaan kita itu untuk standar nasional minimal harus di atas 20 hari. Sekarang minyak kita 23 hari," ujar Bahlil dengan nada meyakinkan. "Minyak kita itu aman. Jadi nggak perlu ada panik. Suplai lancar," tegasnya.

Pernyataan Bahlil ini bertujuan untuk meredakan kekhawatiran masyarakat yang mungkin timbul akibat pemberitaan mengenai konflik di Timur Tengah. Potensi gangguan terhadap jalur distribusi minyak global dapat memicu spekulasi dan kekhawatiran akan di dalam negeri. Oleh karena itu, pemerintah berupaya untuk memberikan informasi yang transparan dan akurat mengenai kondisi stok BBM nasional.

Diversifikasi Sumber Pasokan Minyak Mentah: Strategi Mitigasi Risiko Pemerintah

Lebih lanjut, Bahlil menjelaskan bahwa pemerintah telah mengambil langkah-langkah strategis untuk mengamankan pasokan minyak mentah, bahan baku utama dalam produksi BBM. Selama ini, Indonesia memang bergantung pada kawasan Timur Tengah sebagai sumber utama pasokan minyak mentah. Namun, dengan mempertimbangkan potensi risiko geopolitik dan fluktuasi harga minyak global, pemerintah telah melakukan diversifikasi sumber pasokan.

"Kita itu ambil dari Middle East itu minyak mentahnya, bukan minyak jadi, crude-nya, bahan bakunya. Itu 20 sampai 25%. Tapi saya sudah dapat penggantinya. Kami dengan Pertamina sudah switch dari Middle East kita ambil di Amerika, kemudian dari Nigeria, dan dari Brasil," jelas Bahlil.

Keputusan untuk beralih ke sumber-sumber alternatif seperti Amerika Serikat, Nigeria, dan Brasil merupakan langkah proaktif untuk mengurangi ketergantungan pada satu wilayah tertentu dan meningkatkan ketahanan energi nasional. Diversifikasi sumber pasokan ini diharapkan dapat meminimalkan dampak negatif dari gejolak geopolitik terhadap ketersediaan dan harga BBM di dalam negeri.

Imbauan untuk Tidak Terprovokasi dan Menjaga Ketenangan Pasar