Hubungan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) semakin memanas, ditandai dengan pernyataan keras dari pejabat tinggi Iran dan eskalasi konflik di lapangan. Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi, menegaskan bahwa negaranya tidak mencari gencatan senjata dengan AS maupun Israel, dan menolak untuk bernegosiasi dengan Washington. Pernyataan ini disampaikan dalam wawancara dengan NBC News yang ditayangkan pada Kamis, 5 Maret 2026.
"Kami tidak meminta gencatan senjata, dan kami tidak melihat adanya alasan mengapa kami harus bernegosiasi dengan AS," tegas Araghchi. Ia menjelaskan bahwa Iran telah dua kali bernegosiasi dengan AS di masa lalu, namun setiap kali, mereka justru diserang di tengah proses negosiasi. Pengalaman pahit ini membuat Iran kehilangan kepercayaan terhadap niat baik AS dalam perundingan.
Lebih lanjut, Araghchi menanggapi kemungkinan invasi darat oleh AS ke Iran dengan nada menantang. "Kami menunggu mereka karena kami yakin dapat menghadapi mereka, dan hal itu akan menjadi bencana besar bagi mereka," ujarnya. Pernyataan ini mencerminkan keyakinan diri Iran dalam menghadapi kekuatan militer AS, meskipun mengakui potensi kerugian yang akan dialami kedua belah pihak.
Araghchi menekankan bahwa Iran telah sepenuhnya siap menghadapi konflik yang sedang berlangsung dan siap untuk segala kemungkinan lainnya, termasuk invasi darat. Ia menegaskan bahwa angkatan bersenjata Iran sudah siap menghadapi skenario apa pun. Kesigapan ini menunjukkan bahwa Iran tidak gentar menghadapi ancaman militer dari AS dan siap mempertahankan kedaulatannya dengan segala cara.
Pernyataan Araghchi ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran dan AS, yang dipicu oleh serangkaian peristiwa baru-baru ini. Pada Kamis yang sama, Iran mengumumkan bahwa Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) telah menargetkan kapal induk USS Abraham Lincoln dengan menggunakan drone di Teluk Oman, sekitar 340 km di luar perairan teritorial Iran.
Markas Besar Khatam al-Anbiya Iran mengklaim bahwa setelah dihantam drone Iran, kapal induk USS Abraham Lincoln beserta kapal-kapal perusaknya segera menjauh dan saat ini berada di posisi lebih dari 1.000 km dari kawasan tersebut. Klaim ini, jika benar, menunjukkan kemampuan Iran untuk menyerang aset-aset maritim AS di kawasan tersebut dan memaksa mereka untuk menjauh dari perairan Iran.
Serangan terhadap USS Abraham Lincoln terjadi menyusul serangan gabungan AS-Israel terhadap Teheran dan sejumlah kota lainnya di Iran yang bermula Sabtu, 28 Februari 2026. Serangan itu mengakibatkan kematian Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, beserta beberapa anggota keluarganya, jajaran komandan militer tertinggi Iran, serta warga sipil.
Serangan ini merupakan pukulan telak bagi Iran dan memicu kemarahan besar di seluruh negeri. Iran kemudian merespons dengan beberapa gelombang serangan rudal dan drone yang menargetkan aset-aset Israel dan AS di kawasan tersebut. Serangan balasan ini menunjukkan tekad Iran untuk membalas dendam atas kematian Khamenei dan para pejabat tinggi lainnya, serta mengirimkan pesan yang jelas kepada AS dan Israel bahwa agresi mereka tidak akan dibiarkan tanpa konsekuensi.
Situasi saat ini sangat berbahaya dan berpotensi untuk meningkat menjadi konflik yang lebih luas dan merusak. Baik Iran maupun AS tampaknya tidak bersedia untuk mundur, dan masing-masing pihak memiliki alasan yang kuat untuk mempertahankan posisinya.