Jakarta – Meningkatnya tensi antara Amerika Serikat dan Iran telah memicu kekhawatiran global, tak terkecuali di Indonesia. Presiden dengan sigap merespons situasi ini dengan memprioritaskan keamanan pangan nasional. Beliau secara langsung meminta jaminan ketersediaan stok pangan di tengah ketidakpastian geopolitik yang semakin meningkat.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memberikan pernyataan meyakinkan bahwa kondisi pangan Indonesia saat ini berada dalam keadaan aman dan mencukupi untuk memenuhi kebutuhan seluruh masyarakat. "Sempat ditanya Pak Presiden, pangan kita lebih dari cukup," ungkap Amran usai melakukan pertemuan di Kantor Kementerian Pertanian, Jakarta, pada hari Selasa, 3 Maret .

Amran menegaskan bahwa komoditas pangan utama, seperti beras, berada dalam kondisi yang sangat aman. Bahkan, stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) saat ini mencapai 3,7 juta ton, sebuah pencapaian yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah Republik Indonesia.

"Besok InsyaaAllah 3,7 juta ton, tidak pernah terjadi sepama republik ini berdiri. Tadi pagi saya dengan 3,67 juta ton beras perkiraan itu di April 5 juta ton tanpa impor," jelasnya dengan optimis. Pernyataan ini memberikan angin segar di tengah kekhawatiran akan potensi gangguan pasokan akibat konflik global.

Lebih lanjut, Amran menjelaskan bahwa kebutuhan pangan lain masih dapat disubstitusi jika terjadi gangguan pada rantai pasokan. Pemerintah telah menyiapkan berbagai alternatif untuk memastikan ketersediaan pangan bagi seluruh masyarakat Indonesia.

"Kalau yang lain kita masih bisa cari subtitusinya. Kalau gak ada daging bisa telur, kalau ga ada telur bisa ikan, kalau karbohidrat kita bisa substitusi ke ubi dan singkong untuk pangan orang Indonesia, dan pangan beras yang lainya sayuran dan lainnya garam," papar Amran. Strategi diversifikasi pangan ini diharapkan dapat meminimalisir dampak negatif dari potensi gangguan pasokan akibat konflik internasional.

Mendag Waspadai Dampak Potensial Penutupan Selat Hormuz: Kenaikan Harga dan Gangguan Logistik Mengintai

Di sisi lain, Menteri Perdagangan Budi Santoso menyampaikan kewaspadaannya terhadap potensi dampak ekonomi dari konflik di Timur Tengah, terutama jika eskalasi konflik menyebabkan penutupan Selat Hormuz. Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran vital bagi perdagangan minyak dunia, dan penutupannya akan berdampak signifikan terhadap harga komoditas global.

Menurut Budi, hambatan pada jalur perdagangan internasional ini dapat memicu kenaikan harga minyak mentah, yang pada gilirannya akan berdampak pada biaya logistik dan bahan baku industri. Kenaikan biaya ini akan dirasakan oleh seluruh sektor ekonomi, dari transportasi hingga manufaktur.