Jakarta, Indonesia – Pasar minyak global mengalami guncangan hebat pada hari Selasa (Rabu waktu Jakarta) menyusul beredarnya informasi keliru yang diunggah oleh Menteri Energi Amerika Serikat, Chris Wright, di media sosial. Informasi yang kemudian terbukti tidak benar ini, memicu kepanikan dan mendorong harga minyak mentah dunia anjlok tajam.

Insiden ini bermula ketika Menteri Wright mengklaim bahwa Angkatan Laut AS telah berhasil mengawal sebuah kapal tanker minyak melalui Selat Hormuz. Selat Hormuz merupakan jalur perairan strategis yang vital bagi perdagangan minyak global, menghubungkan produsen minyak utama di Timur Tengah dengan pasar dunia. Keamanan jalur ini menjadi perhatian utama, terutama di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan tersebut.

Klaim Wright yang menyebutkan adanya pengawalan oleh Angkatan Laut AS sontak memicu reaksi keras dari pasar. Para pelaku pasar khawatir bahwa tindakan tersebut akan semakin meningkatkan risiko konflik dan mengganggu pasokan minyak global. Sentimen negatif ini dengan cepat memicu aksi jual besar-besaran, mendorong harga minyak mentah AS anjlok hingga 11,94% dan ditutup pada harga USD 83,45 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah Brent, yang menjadi acuan global, juga mengalami penurunan signifikan sebesar 11,28% menjadi USD 87,80 per barel. Bahkan, sempat terjadi penurunan harga lebih dari 17% sesaat setelah unggahan tersebut beredar luas.

Namun, klaim Menteri Wright dengan cepat dibantah oleh Gedung Putih. Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, dengan tegas menyatakan bahwa Angkatan Laut AS tidak melakukan pengawalan terhadap kapal tanker atau kapal apapun di Selat Hormuz saat ini. "Angkatan Laut AS belum mengawal kapal tanker atau kapal apa pun saat ini," tegas Leavitt kepada para wartawan.

Leavitt juga mengungkapkan bahwa ia telah mengetahui tentang unggahan Menteri Wright dan sedang berupaya untuk mengklarifikasi langsung dengan yang bersangkutan. Ia menambahkan bahwa unggahan tersebut telah dihapus dengan cepat setelah diketahui bahwa informasi yang disampaikan tidak akurat.

Menyusul bantahan dari Gedung Putih, Departemen Energi AS mengeluarkan pernyataan resmi yang mengakui bahwa keterangan dalam klip video yang diunggah oleh Menteri Wright adalah salah. "Sebuah klip video dihapus dari akun X resmi Sekretaris Wright setelah dipastikan bahwa keterangannya salah diberi teks oleh staf Departemen Energi," bunyi pernyataan tersebut.

Meskipun Departemen Energi mengakui kesalahan tersebut, juru bicara departemen tersebut juga menegaskan bahwa Presiden Trump, Menteri Wright, dan seluruh tim energi Presiden terus memantau situasi dengan cermat, berkomunikasi dengan para pemimpin industri, dan meminta militer AS untuk menyusun opsi tambahan untuk menjaga Selat Hormuz tetap terbuka. Opsi tersebut termasuk potensi pengawalan kapal tanker oleh Angkatan Laut AS.

"Presiden Trump, Menteri Wright, dan seluruh tim energi Presiden memantau situasi dengan cermat, berbicara dengan para pemimpin industri, dan meminta militer AS untuk menyusun opsi tambahan agar Selat Hormuz tetap terbuka, termasuk potensi Angkatan Laut kita untuk mengawal kapal tanker," kata juru bicara tersebut.

Insiden ini menyoroti betapa sensitifnya pasar minyak global terhadap informasi yang berkaitan dengan keamanan pasokan. Selat Hormuz merupakan jalur perairan yang sangat penting, di mana sekitar 20% dari konsumsi minyak bumi global diekspor melalui jalur sempit ini sebelum terjadinya perang. Ketegangan geopolitik di kawasan tersebut, terutama yang melibatkan Iran, telah meningkatkan kekhawatiran akan potensi gangguan terhadap lalu lintas maritim dan pasokan minyak.