Euforia menyambut Hari Raya Idul Fitri atau Lebaran, identik dengan tradisi mudik, menjadi momen yang dinanti-nantikan oleh jutaan masyarakat Indonesia. Pemerintah pun berupaya keras untuk memastikan kelancaran arus mudik, salah satunya dengan memberlakukan pembatasan operasional truk selama periode Lebaran. Namun, di balik upaya tersebut, tersimpan kekhawatiran mendalam bagi para sopir truk, khususnya mereka yang mengemudikan truk sumbu tiga atau lebih.
Rencana pembatasan operasional truk selama 17 hari penuh pada periode Lebaran 2026 menuai reaksi keras dari kalangan pengemudi truk. Vallery Gabrielia Mahodim, Koordinator sekaligus Ketua Umum Aliansi Perjuangan Pengemudi Nusantara (APPN), angkat bicara mengenai dampak sosial ekonomi yang akan dirasakan oleh para sopir truk. Ia berharap pemerintah mempertimbangkan secara matang sebelum memberlakukan kebijakan tersebut.
"Kami memahami pentingnya kelancaran arus mudik, tetapi kami juga berharap pemerintah dapat melihat dari sudut pandang kami, para sopir truk yang menggantungkan hidup dari pekerjaan ini," ujar Vallery dengan nada prihatin.
Pembatasan operasional truk, menurut Vallery, akan berdampak langsung pada pendapatan harian para sopir. Tanpa aktivitas angkutan, praktis tidak ada pemasukan yang masuk ke kantong mereka. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh para sopir, tetapi juga keluarga yang bergantung pada nafkah mereka.
"Jika kami yang membawa truk logistik sumbu tiga dilarang beroperasi saat Lebaran nanti, jelas kami akan jadi pengangguran. Keluarga kami kan juga butuh makan, sama seperti masyarakat lainnya. Jadi, tolong pikirkan nasib kami juga," tegasnya.
Kekhawatiran serupa juga diungkapkan oleh Cahyadi Kurnia, seorang sopir truk dari Komunitas Indonesia Bersatu (SKIB). Ia khawatir pembatasan operasional kendaraan sumbu tiga pada masa Lebaran akan mengancam keberlangsungan nafkah bagi keluarganya. Cahyadi berharap pemerintah dapat menghadirkan solusi yang dapat menjaga keseimbangan antara kelancaran arus mudik dan keberlangsungan ekonomi para pengemudi.
"Kami minta solusi, bagaimana nasib keluarga kami saat dilarang narik truk sumbu 3 saat momen Lebaran itu. Sebab, hidup keluarga kami sangat tergantung pada pekerjaan ini," ungkapnya dengan nada putus asa.
Tidak hanya para sopir, istri-istri mereka pun turut merasakan dampak dari kebijakan pembatasan operasional truk. Maya, istri seorang sopir truk sumbu 3 di sebuah perusahaan air minum, mengungkapkan bahwa satu-satunya penghasilan keluarganya berasal dari gaji suaminya. Ia khawatir jika suaminya tidak bisa bekerja selama periode Lebaran, mereka tidak akan memiliki cukup uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
"Apalagi saya hanya sebagai ibu rumah tangga. Saya hanya mengandalkan penghasilan suami yang sudah bekerja sebagai sopir truk dari tahun 2010 lalu," tuturnya dengan nada cemas.