MEDIAKOMPETEN.CO.ID - Kehidupan seorang buruh pabrik batu bata di kawasan pinggiran Lahore, Pakistan, kini berada di persimpangan jalan yang sangat menyakitkan. Ia dihadapkan pada situasi sulit yang memaksa memilih antara terus menanggung beban utang yang tak berkesudahan atau melepaskan salah satu organ vitalnya.

Wartawan mendapati bahwa tekanan finansial ini berasal dari kewajiban utang yang terus membengkak. Jumlahnya diklaim telah mencapai angka fantastis yang sulit dijangkau oleh penghasilan seorang pekerja harian.

Narasumber yang identitasnya dirahasiakan demi keamanan, yakni Shafeeq Masih, mengungkapkan bahwa ia terus mendapat desakan dari pemilik pabrik. Tekanan ini terkait pelunasan utang yang substansial bagi standar kehidupan lokal.

"Harus terus terjerat utang tanpa akhir atau menjual satu-satunya aset berharga yang ia miliki, yakni ginjal," demikian pengakuan Masih mengenai situasi pelik yang dihadapinya, sebagaimana dikutip dari laporan investigasi.

Masih menyebutkan bahwa akumulasi utangnya tersebut telah mencapai nominal 900.000 rupee. Nilai tersebut setara dengan sekitar 161 juta rupiah, sebuah jumlah yang sangat besar bagi pekerja pabrik.

Ironisnya, meskipun ia telah bekerja keras tanpa lelah, jumlah utang yang harus dibayar justru terus bertambah. Hal ini mengindikasikan adanya ketidakseimbangan dalam sistem perhitungan yang diterapkan oleh pihak manajemen.

Lebih lanjut, Masih memiliki kecurigaan kuat mengenai praktik yang terjadi di balik pembukuan perusahaan. Ia menduga telah terjadi manipulasi dalam pencatatan keuangan yang membuatnya semakin sulit keluar dari jeratan hutang tersebut.

"Masih menyadari adanya manipulasi dalam pencatatan keuangan, tetapi ia tidak berdaya," demikian ditegaskan dalam laporan mengenai kondisi yang dialami pekerja tersebut.

Situasi ini menggambarkan kerentanan ekstrem yang dialami oleh pekerja informal di sektor padat karya Pakistan, di mana sistem utang berbasis pabrik sering kali menjadi alat kontrol eksploitatif.