MEDIAKOMPETEN.CO.ID - Momen Hari Raya Idul Fitri seringkali menjadi periode transisi pola makan yang drastis bagi masyarakat Indonesia. Setelah menjalani ibadah puasa selama sebulan penuh dengan kontrol asupan yang ketat, euforia Lebaran memicu kebiasaan konsumsi makanan berlebihan.
Kegembiraan dalam menyantap hidangan khas hari raya ini sayangnya sering kali berbanding lurus dengan munculnya berbagai keluhan kesehatan segera setelah perayaan usai. Fenomena ini menjadi perhatian khusus di kalangan profesional medis.
Fenomena peningkatan kasus gangguan kesehatan pasca-Lebaran ini mendapat sorotan tajam dari pakar kesehatan ternama di Tanah Air. Mereka mengidentifikasi perubahan pola makan sebagai faktor risiko utama.
Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, seorang pakar penyakit pencernaan yang juga bertugas di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), menyoroti isu ini secara spesifik. Beliau mengaitkan lonjakan penyakit dengan ketidakmampuan mengontrol konsumsi makanan.
Menurut Prof Ari, banyak masyarakat cenderung mengabaikan batasan diet yang selama ini mereka patuhi selama bulan Ramadan. Kebiasaan ini terjadi ketika mereka berkumpul dan bersilaturahmi dengan keluarga besar.
"Banyak masyarakat yang mulai mengabaikan pantangan makan saat berkumpul bersama keluarga," ujar Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH.
Hal ini diperparah dengan fakta bahwa makanan yang selama ini dijaga ketat konsumsinya, tiba-tiba dikonsumsi dalam volume besar dalam rentang waktu yang sangat singkat. Kondisi ini memberikan beban signifikan pada sistem pencernaan.
Perubahan mendadak dalam asupan lemak, gula, dan kalori tinggi inilah yang menjadi pemicu utama kambuhnya berbagai penyakit kronis yang telah lama diderita sebagian masyarakat, seperti dilansir dari sumber terkait.
Kondisi ini menekankan pentingnya transisi pola makan yang bertahap, bahkan setelah periode puasa berakhir, untuk menjaga kesehatan jangka panjang pasca-Lebaran.