Jakarta, 10 Maret – Dampak hujan deras yang mengguyur Jakarta pada akhir pekan lalu masih terasa hingga hari ini. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta melaporkan bahwa hingga saat ini, 16 Rukun Tetangga (RT) dan dua ruas jalan di ibukota masih tergenang banjir. Kondisi ini menimbulkan tantangan tersendiri bagi warga, terutama di wilayah Jakarta Barat, yang menjadi fokus utama perhatian saat ini.

Kepala Pusat Data dan Informasi BPBD DKI Jakarta, Muhammad Yohan, menjelaskan bahwa banjir yang melanda disebabkan oleh curah hujan ekstrem yang melampaui kapasitas drainase kota. "Curah hujan yang sangat tinggi dalam waktu singkat menyebabkan sistem drainase tidak mampu menampung volume air yang besar, sehingga meluap dan menyebabkan genangan di berbagai wilayah," ujarnya saat dikonfirmasi oleh Liputan6.com, Senin (9/3/2026).

Jakarta Barat: Epicentrum Banjir

Dari data yang dihimpun BPBD, wilayah Jakarta Barat menjadi area yang paling terdampak banjir kali ini. Beberapa kelurahan mengalami genangan yang cukup signifikan, memaksa warga untuk mengungsi ke tempat yang lebih aman.

  • Kelurahan Duri Kosambi: Di wilayah ini, empat RT terendam banjir dengan ketinggian air bervariasi antara 30 hingga 80 cm. Selain curah hujan tinggi, luapan Kali Semanan juga menjadi faktor utama penyebab banjir di Duri Kosambi. Kondisi ini diperparah dengan adanya pendangkalan dan penyempitan sungai akibat sedimentasi dan aktivitas pembangunan di sekitar bantaran sungai.

    Kelurahan Rawa Buaya: Kondisi yang lebih parah terjadi di Rawa Buaya, di mana tujuh RT terendam banjir dengan ketinggian air mencapai 60 hingga 90 cm. Curah hujan yang ekstrem menjadi penyebab utama banjir di wilayah ini. Sistem drainase yang kurang optimal dan adanya penyumbatan sampah di saluran air turut memperparah kondisi banjir.

    Kelurahan Jelambar: Satu RT di Jelambar juga dilaporkan terendam banjir dengan ketinggian air sekitar 30 cm. Selain curah hujan tinggi, luapan Kali Grogol juga menjadi faktor penyebab banjir di wilayah ini. Kali Grogol yang melintasi Jelambar memiliki sejarah panjang terkait masalah banjir. Upaya normalisasi dan pemeliharaan sungai secara berkala sangat dibutuhkan untuk mengurangi risiko banjir di wilayah ini.

    Kelurahan Kembangan Selatan: Di Kembangan Selatan, dua RT terendam banjir dengan ketinggian air sekitar 50 cm. Curah hujan tinggi dan luapan Bendungan Kali Pelopor menjadi penyebab utama banjir di wilayah ini. Bendungan Kali Pelopor berfungsi sebagai pengendali banjir, namun kapasitasnya terbatas dan tidak mampu menampung volume air yang besar saat curah hujan ekstrem.

    Kelurahan Kembangan Utara: Dua RT di Kembangan Utara juga dilaporkan tergenang banjir dengan ketinggian air antara 40 hingga 60 cm. Hujan deras dan luapan kali menjadi penyebab utama banjir di wilayah ini. Kondisi drainase yang buruk dan kurangnya ruang terbuka hijau untuk resapan air turut memperparah kondisi banjir di Kembangan Utara.