MEDIAKOMPETEN.CO.ID - Momen Hari Raya Idulfitri, yang seharusnya dipenuhi sukacita, terkadang justru menjadi sumber tekanan mental bagi sebagian masyarakat Indonesia. Alih-alih merasakan kebahagiaan penuh, beberapa individu justru mengalami penurunan kondisi psikologis.
Pemicu dari kondisi ini sangat beragam dan seringkali berkaitan erat dengan dinamika sosial selama perayaan besar berlangsung. Tekanan ini bisa muncul dari berbagai sisi, baik internal maupun eksternal.
Salah satu sumber tekanan umum adalah interaksi sosial yang intens, seperti rentetan pertanyaan pribadi yang dilontarkan oleh kerabat jauh maupun dekat. Pertanyaan mengenai status pekerjaan, pernikahan, atau rencana masa depan seringkali menjadi momok.
Selain itu, adanya kesenjangan antara harapan keluarga besar dengan realitas kehidupan pribadi juga dapat menimbulkan beban emosional yang signifikan. Hal ini membuat suasana kumpul keluarga terasa mencekam, bukan membahagiakan.
Kondisi psikologis yang terganggu saat Lebaran ini merupakan fenomena yang diakui oleh para profesional kesehatan jiwa. Mereka memahami bahwa suasana liburan besar membawa ekspektasi tinggi.
Menanggapi hal ini, spesialis kedokteran jiwa, dr. Lahargo Kembaren, SpKJ, memberikan pandangan mengenai potensi masalah mentalitas selama periode Lebaran. Beliau menggarisbawahi bahwa situasi ini memang bisa terjadi pada sebagian orang.
"Hal-hal seperti ini memang bisa saja terjadi buat sebagian orang," ujar dr. Lahargo Kembaren, SpKJ, mengonfirmasi adanya potensi tekanan psikologis selama momen perayaan hari raya.
Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk menerapkan strategi pencegahan agar perayaan tetap berjalan damai dan menyenangkan bagi semua pihak. Langkah proaktif sangat dibutuhkan untuk menjaga ketenangan batin.
Para ahli menyarankan persiapan mental yang matang sebelum memasuki periode silaturahmi dan kumpul keluarga besar. Mengenali batasan diri adalah langkah awal yang krusial dalam menjaga kewarasan mental.