Jakarta, [Tanggal Hari Ini] – Holding BUMN Aviasi dan Pariwisata, PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero) atau yang lebih dikenal dengan InJourney, menyatakan kewaspadaannya terhadap potensi dampak eskalasi konflik geopolitik global, khususnya ketegangan antara Amerika Serikat-Israel versus Iran, terhadap sektor pariwisata Indonesia. Kekhawatiran ini didasari oleh potensi gangguan yang dapat ditimbulkan, mulai dari pembatalan penerbangan internasional hingga fluktuasi harga energi yang berimbas pada biaya perjalanan.
Direktur Komersial InJourney, Veronica Sisilia, menekankan bahwa dinamika geopolitik global saat ini memiliki potensi signifikan untuk memengaruhi industri pariwisata Tanah Air. Ia menyoroti volatilitas harga energi dan nilai tukar sebagai faktor-faktor kunci yang dapat secara langsung berdampak pada operasional dan daya saing sektor pariwisata. Pernyataan ini disampaikan dalam sebuah acara di Sarinah, Jakarta, pada hari Kamis, [Tanggal Seharusnya Jika Artikel Terjadi di 2026, Misal 12 Maret 2026].
"Kondisi geopolitik saat ini memunculkan ketidakpastian yang perlu kita antisipasi. Volatilitas harga energi, nilai tukar, dan faktor-faktor lainnya sudah pasti akan berdampak pada kita semua," ujar Veronica. "Kami terus memantau perkembangan situasi dan menyiapkan strategi mitigasi untuk meminimalkan dampak negatifnya."
Potensi Gangguan dan Strategi Mitigasi
Salah satu potensi gangguan utama yang diantisipasi oleh InJourney adalah pembatalan penerbangan internasional. Konflik yang meningkat dapat menyebabkan kekhawatiran keamanan bagi wisatawan, yang pada gilirannya dapat memicu pembatalan perjalanan dan penurunan permintaan penerbangan ke dan dari Indonesia. Selain itu, kenaikan harga minyak mentah dunia sebagai akibat dari ketegangan geopolitik dapat meningkatkan biaya operasional maskapai penerbangan dan penyedia layanan pariwisata lainnya, yang pada akhirnya dapat diteruskan kepada konsumen dalam bentuk harga yang lebih tinggi.
Menyadari potensi risiko ini, InJourney mengambil langkah-langkah proaktif untuk memitigasi dampaknya. Salah satu strategi utama adalah dengan memperkuat fokus pada pasar wisatawan domestik. Veronica menjelaskan bahwa data sepanjang tahun 2025 menunjukkan adanya 101 juta wisatawan domestik, angka yang signifikan dan menjadi tulang punggung bagi sektor pariwisata Indonesia. InJourney berharap dapat mempertahankan bahkan meningkatkan angka ini di tahun-tahun mendatang.
"Wisatawan domestik merupakan aset berharga bagi pariwisata Indonesia," kata Veronica. "Kami akan terus berupaya untuk meningkatkan daya tarik destinasi domestik, menawarkan paket-paket wisata yang menarik, dan meningkatkan kualitas layanan untuk memenuhi kebutuhan wisatawan domestik."
Optimisme di Tengah Tantangan
Meskipun menghadapi tantangan dari ketidakpastian geopolitik, InJourney tetap optimis terhadap prospek pariwisata Indonesia. Veronica mengungkapkan bahwa berdasarkan perkiraan, pertumbuhan wisatawan yang masuk pada tahun 2025 mencapai sekitar 14,4 persen. InJourney berharap momentum positif ini dapat terus berlanjut, terutama dengan dukungan dari wisatawan domestik yang kuat.