Jakarta, [Tanggal Hari Ini] – PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero), yang dikenal dengan nama InJourney, holding yang membidangi sektor aviasi dan pariwisata, menyampaikan proyeksi optimis terkait peningkatan tingkat hunian hotel-hotel yang berada di bawah pengelolaan mereka. InJourney memprediksi adanya kenaikan signifikan, mencapai rata-rata 10%, selama periode libur Lebaran dan Hari Raya Nyepi tahun dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Proyeksi ini didasarkan pada beberapa faktor, termasuk antisipasi terhadap dampak positif dari kebijakan (WFA) yang sedang digalakkan oleh pemerintah.

Veronica Sisilia, Direktur Komersial InJourney, mengungkapkan keyakinannya bahwa kebijakan WFA akan menjadi katalisator utama dalam mendorong pertumbuhan sektor perhotelan dan pariwisata nasional. Dalam keterangan resminya yang disampaikan pada hari Kamis, 12 Maret 2026, Veronica menjelaskan bahwa WFA tidak hanya memberikan fleksibilitas bagi para pekerja, tetapi juga berpotensi mengurai kepadatan arus mudik yang kerap terjadi menjelang Lebaran. Dengan demikian, masyarakat memiliki kesempatan untuk menikmati masa liburan yang lebih panjang dan tersebar, yang pada gilirannya akan meningkatkan permintaan akan akomodasi dan layanan pariwisata.

"Kebijakan Work From Anywhere (WFA) dari pemerintah juga menjadi peluang positif untuk mengurai kepadatan arus mudik sekaligus mendorong masyarakat menikmati masa liburan lebih panjang, yang tentu berdampak baik bagi industri perhotelan dan pariwisata nasional," ujar Veronica. Pernyataan ini menggarisbawahi pandangan InJourney bahwa WFA bukan hanya sekadar tren sementara, melainkan sebuah perubahan paradigma yang dapat membawa manfaat jangka panjang bagi sektor pariwisata Indonesia.

Periode libur Lebaran dan Nyepi 2026 yang diprediksi akan mengalami peningkatan okupansi adalah antara tanggal 17 hingga 29 Maret 2026. InJourney memproyeksikan bahwa peningkatan ini akan merata di seluruh hotel yang dikelola oleh PT Hotel Indonesia Natour (HIN), yang kini dikenal sebagai InJourney Hospitality. HIN sendiri merupakan salah satu pilar penting dalam ekosistem InJourney, yang memiliki portofolio hotel yang tersebar di berbagai destinasi wisata utama di Indonesia.

Secara rinci, InJourney memprediksi tingkat hunian hotel di beberapa klaster wilayah sebagai berikut:

  • Klaster Bali: Diproyeksikan mencapai tingkat hunian sebesar 64%. Bali, sebagai salah satu destinasi wisata paling ikonik di Indonesia, selalu menjadi magnet bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Libur Lebaran dan Nyepi, yang jatuh berdekatan, diharapkan akan semakin meningkatkan daya tarik Bali sebagai destinasi liburan favorit.
  • Klaster Jawa: Diproyeksikan mencapai tingkat hunian sebesar 53%. Jawa, dengan budaya dan sejarahnya, menawarkan berbagai pilihan wisata yang menarik bagi berbagai segmen pasar. Dari wisata sejarah di Yogyakarta dan Solo, hingga wisata alam di Bandung dan Malang, Jawa memiliki daya tarik yang kuat bagi wisatawan domestik.
  • Klaster Sumatera: Diproyeksikan mencapai tingkat hunian sebesar 45%. Sumatera, dengan keindahan alamnya yang masih alami dan budaya yang kaya, semakin populer sebagai destinasi wisata alternatif. Danau Toba, Bukit Tinggi, dan Banda Aceh adalah beberapa contoh destinasi wisata unggulan di Sumatera yang menarik minat wisatawan.
  • Klaster Kalimantan: Diproyeksikan mencapai tingkat hunian tertinggi, yaitu 82%. Kalimantan, dengan hutan hujan tropisnya yang luas dan keanekaragaman hayati yang unik, menawarkan pengalaman wisata yang berbeda dan menarik bagi para petualang dan pecinta alam.
  • Klaster Sulawesi: Diproyeksikan mencapai tingkat hunian sebesar 37%. Sulawesi, dengan keindahan bawah lautnya yang memukau dan budaya yang unik, semakin dikenal sebagai destinasi wisata yang menarik bagi para penyelam dan wisatawan yang mencari pengalaman yang berbeda.

Selain berdasarkan wilayah, InJourney juga memproyeksikan tingkat hunian hotel berdasarkan kelasnya. Hotel bintang 5 diprediksi mencapai tingkat okupansi 6%, hotel bintang 4 sebesar 75%, dan hotel bintang 3 sebesar 55%. Yang menggembirakan, seluruh kategori hotel ini diperkirakan akan mengalami peningkatan dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa InJourney mampu menarik berbagai segmen pasar, mulai dari wisatawan yang mencari kemewahan hingga wisatawan yang mencari akomodasi yang nyaman dan terjangkau.

Christine Hutabarat, Direktur Utama InJourney Hospitality, menegaskan komitmen perusahaan untuk terus meningkatkan kualitas layanan dan fasilitas demi memberikan pengalaman menginap yang tak terlupakan bagi para tamu. "Kami juga terus melakukan berbagai improvement dari sisi operasional, fasilitas, serta peningkatan kompetensi personel guna menjamin kenyamanan para tamu selama periode Idul Fitri & Nyepi 2026," kata Christine. Hal ini menunjukkan bahwa InJourney tidak hanya fokus pada peningkatan kuantitas, tetapi juga pada peningkatan kualitas layanan.

InJourney menyadari bahwa persaingan di industri perhotelan semakin ketat, sehingga inovasi dan peningkatan kualitas layanan menjadi kunci untuk memenangkan hati para pelanggan. Oleh karena itu, InJourney terus berinvestasi dalam pengembangan sumber daya manusia, peningkatan fasilitas, dan penerapan teknologi terbaru untuk meningkatkan efisiensi operasional dan memberikan pengalaman menginap yang lebih baik bagi para tamu.