Jakarta – Pemerintah Indonesia tengah mengambil langkah-langkah strategis dan agresif untuk mempercepat pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT) sebagai kunci untuk mencapai swasembada energi dan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil yang semakin membebani negara. Inisiatif ini tidak hanya bertujuan untuk memperkuat ketahanan energi nasional, tetapi juga untuk memposisikan Indonesia sebagai pemimpin dalam transisi menuju energi bersih dan berkelanjutan di kawasan Asia Tenggara dan global.
Dengan potensi sumber energi terbarukan yang melimpah, mulai dari tenaga surya, panas bumi (geothermal), angin, air, hingga biomassa, Indonesia memiliki modal yang kuat untuk merevolusi sektor energinya. Pemanfaatan potensi ini secara optimal akan menjadi fondasi bagi kemandirian energi di masa depan, sekaligus membuka peluang investasi baru dan menciptakan lapangan kerja di sektor hijau.
Komitmen yang kuat terhadap percepatan transisi energi ini secara tegas diutarakan oleh Presiden Prabowo Subianto, yang menugaskan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, sebagai Ketua Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Transisi Energi. Penunjukan ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam mengkoordinasikan dan mempercepat implementasi program-program EBT di seluruh Indonesia.
Presiden Prabowo juga menekankan pentingnya pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) skala besar dan program konversi kendaraan listrik sebagai fokus utama dalam percepatan transisi energi jangka pendek. Kedua program ini dianggap sebagai langkah strategis untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan menciptakan ekosistem energi yang lebih berkelanjutan.
"Kita sudah punya niat untuk swasembada energi, yang kita yakin akan tercapai dalam 4 tahun. Target ini tentunya memerlukan upaya keras dan percepatan dengan mengoptimalkan sumber-sumber energi alternatif yang kita miliki. Dengan akselerasi ini kita yakin permasalahan energi ini dapat terselesaikan," ujar Prabowo saat menghadiri acara Syukuran Hari Ulang Tahun (HUT) ke-1 Danantara Indonesia di Jakarta, Rabu (11/3/2026). Pernyataan ini mencerminkan optimisme dan keyakinan pemerintah dalam mencapai target swasembada energi melalui pemanfaatan EBT secara masif.
Target Ambisius: Pembangunan PLTS 100 Gigawatt
Salah satu target paling ambisius dalam agenda transisi energi Indonesia adalah pembangunan PLTS dengan total kapasitas 100 gigawatt (GW). Proyek raksasa ini akan menjadi salah satu yang terbesar di dunia dan akan mengubah lanskap energi Indonesia secara signifikan. Pembangunan PLTS 100 GW ini bukan hanya sekadar proyek infrastruktur, tetapi juga simbol komitmen Indonesia terhadap energi bersih dan berkelanjutan.
Presiden Prabowo meyakini bahwa Indonesia memiliki potensi energi alternatif yang jauh lebih besar dibandingkan banyak negara lain yang saat ini sedang menghadapi krisis energi. Keunggulan komparatif ini harus dimanfaatkan secara maksimal untuk mencapai kemandirian energi dan mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar fosil.
"Banyak negara dalam kondisi yang lebih menyedihkan daripada kita, kita punya kelapa sawit yang sangat banyak, kita punya singkong yang cukup, kita bisa dapat BBM dari jagung, dari tebu. Saudara-saudara kita punya geothermal (panas bumi) yang sangat besar. Kalau tidak salah kedua cadangan terbesar di dunia yang belum dieksploitasi sepenuhnya," ujar Prabowo. Pernyataan ini menyoroti kekayaan sumber daya alam Indonesia yang dapat diolah menjadi energi alternatif.