Sulawesi Selatan, dengan lanskapnya yang memukau dan budayanya yang kaya, menyimpan permata tersembunyi yang memadukan keindahan alam dengan jejak peradaban purba: Taman Kehati dan Geopark Bulu Sipong. Lebih dari sekadar destinasi wisata, kawasan ini adalah laboratorium alam yang hidup, tempat flora dan fauna endemik berkembang biak, dan artefak arkeologi memberikan wawasan tentang masa lalu yang jauh. Taman Kehati dan Geopark Bulu Sipong adalah bukti nyata komitmen terhadap pelestarian lingkungan dan warisan budaya.
Taman Kehati dan Geopark Bulu Sipong bukan hanya sekadar hamparan lahan hijau. Ia adalah rumah bagi keanekaragaman hayati yang luar biasa, sebuah ekosistem yang terus berkembang dan menjadi tempat berlindung bagi spesies-spesies unik. Data terbaru hingga tahun 2025 menunjukkan bahwa taman ini adalah habitat bagi 25 jenis flora, dengan total populasi mencapai 2.898 pohon. Di antara pepohonan yang menjulang tinggi, terdapat spesies endemik yang menjadi ikon kawasan ini: eboni (Diospyros celebica) dengan kayunya yang hitam legam dan bernilai tinggi, kayu kuku (Pericopsis mooniana) yang kokoh dan tahan lama, serta bitti (Vitex cofassus) yang dikenal karena keindahan bunganya. Kehadiran spesies-spesies ini tidak hanya memperkaya keindahan visual taman, tetapi juga memainkan peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem.
Keanekaragaman hayati Taman Kehati dan Geopark Bulu Sipong tidak terbatas pada dunia tumbuhan. Kawasan ini juga menjadi rumah bagi 41 jenis satwa liar, yang terdiri dari 37 spesies burung yang berkicau merdu di antara pepohonan, dua jenis primata yang lincah berayun dari dahan ke dahan, serta berbagai jenis unggas dan reptil yang melengkapi rantai makanan. Hingga tahun 2025, total 869 individu satwa liar telah berhasil diidentifikasi di kawasan ini. Di antara penghuni hutan yang paling menonjol adalah monyet dare (Macaca maura), primata endemik Sulawesi yang dikenal karena bulunya yang berwarna gelap dan perilaku sosialnya yang unik, serta tarsius, primata kecil nokturnal dengan mata besar yang memancarkan pesona misterius. Kedua spesies ini dilindungi karena populasinya yang rentan dan peran pentingnya dalam menjaga keseimbangan ekosistem.
Vita Mahreyni, seorang ahli lingkungan yang telah lama berkecimpung dalam upaya pelestarian di Taman Kehati dan Geopark Bulu Sipong, menekankan pentingnya kawasan ini sebagai pelindung keanekaragaman hayati. "Taman Kehati dan Geopark Bulu Sipong adalah benteng terakhir bagi banyak spesies flora dan fauna endemik Sulawesi Selatan. Upaya pelestarian yang berkelanjutan sangat penting untuk memastikan bahwa generasi mendatang dapat menikmati keindahan dan manfaat dari keanekaragaman hayati ini," ujarnya.
Komitmen terhadap pelestarian lingkungan di Taman Kehati dan Geopark Bulu Sipong tercermin dalam peningkatan Indeks Kehati (Indeks Keanekaragaman Hayati) dari tahun ke tahun. Pada tahun 2025, Indeks Kehati Flora mencapai 1,54, meningkat dari 1,38 pada tahun 2020. Sementara itu, Indeks Kehati Fauna juga mengalami peningkatan signifikan, dari 2,51 pada tahun 2020 menjadi 2,85 pada tahun 2025. Peningkatan ini menunjukkan bahwa upaya konservasi yang dilakukan di kawasan ini telah membuahkan hasil yang positif, menciptakan lingkungan yang semakin kondusif bagi pertumbuhan dan perkembangan flora dan fauna.
Selain keanekaragaman hayati yang luar biasa, Taman Kehati dan Geopark Bulu Sipong juga menyimpan warisan arkeologi yang tak ternilai harganya. Seni cadas purbakala yang menghiasi dinding-dinding gua adalah saksi bisu peradaban manusia yang telah lama hilang. Lukisan-lukisan kuno ini menggambarkan berbagai aspek kehidupan masyarakat prasejarah, mulai dari perburuan hingga ritual keagamaan. Keberadaan seni cadas ini menjadikan Taman Kehati dan Geopark Bulu Sipong sebagai situs penting bagi penelitian arkeologi dan pemahaman tentang sejarah manusia di Sulawesi Selatan.
Upaya pelestarian Taman Kehati dan Geopark Bulu Sipong tidak lepas dari peran serta aktif berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, masyarakat setempat, dan sektor swasta. Salah satu perusahaan yang menunjukkan komitmennya terhadap pelestarian lingkungan adalah PT Semen Tonasa, yang telah berinvestasi dalam berbagai program konservasi dan pengembangan ekowisata di kawasan ini. Melalui program-program ini, PT Semen Tonasa berupaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pelestarian lingkungan dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat melalui pengembangan pariwisata yang berkelanjutan.
"Kami percaya bahwa pelestarian lingkungan dan pembangunan ekonomi dapat berjalan seiring. Dengan mengembangkan ekowisata yang bertanggung jawab, kami dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat sambil melindungi keanekaragaman hayati dan warisan budaya Taman Kehati dan Geopark Bulu Sipong," kata perwakilan dari PT Semen Tonasa.
Pengakuan atas upaya pelestarian Taman Kehati dan Geopark Bulu Sipong telah datang dari berbagai pihak, baik di tingkat nasional maupun internasional. Pada tahun 2024, SIG (perusahaan induk PT Semen Tonasa) dan PT Semen Tonasa diundang sebagai narasumber pada forum internasional SPAFA International Conference on Southeast Asian Archaeology and Fine Arts (SPAFACON) untuk mempresentasikan program perlindungan situs Bulu Sipong. Selain itu, pada tahun 2025, kedua perusahaan ini juga diundang untuk memaparkan program perlindungan Kehati pada Indonesia Geopark Leader Forum. Undangan ini merupakan bukti pengakuan atas inisiatif strategis yang telah dilakukan oleh SIG dan PT Semen Tonasa dalam melestarikan keanekaragaman hayati dan warisan budaya di Taman Kehati dan Geopark Bulu Sipong.