Jakarta – Kenaikan harga minyak mentah dunia menjadi perhatian serius bagi pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia. Anggota Komisi XII , Eddy Soeparno, mengungkapkan kekhawatirannya terhadap potensi lonjakan harga minyak yang dapat memicu pelebaran defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga melewati batas aman 3,6 persen. Kekhawatiran ini muncul seiring dengan melonjaknya harga minyak dunia dan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

Eddy Soeparno menyampaikan hal ini setelah melakukan konferensi video dengan sejumlah pengamat minyak dan gas (migas) di Singapura dan Tokyo pada Senin, 9 Maret . Dalam diskusi tersebut, terungkap bahwa konflik yang berkecamuk di Timur Tengah, khususnya antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran, menjadi pemicu utama kenaikan harga minyak mentah global.

Konflik Timur Tengah Picu Lonjakan Harga Minyak

Sejak konflik AS-Israel dengan Iran mencapai titik eskalasi, harga minyak mentah dunia mengalami lonjakan signifikan. Dalam kurun waktu satu minggu setelah eskalasi tersebut, harga minyak mentah melonjak lebih dari 30 persen, menembus angka USD 100 per barel. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran global, terutama bagi negara-negara yang sangat bergantung pada impor minyak dan gas bumi dari Timur Tengah.

Eddy Soeparno menjelaskan bahwa negara-negara seperti China, India, Jepang, dan Korea Selatan, yang merupakan konsumen migas terbesar dari Timur Tengah, akan berupaya mencari sumber pasokan alternatif. Negara-negara ini akan melirik negara-negara produsen minyak lain seperti Nigeria, Angola, dan Brazil, yang juga merupakan pemasok migas bagi Indonesia.

"Artinya, Indonesia berpotensi bersaing ketat dengan negara-negara raksasa pengimpor migas untuk mendapatkan pasokan minyak mentah," ungkap Eddy. Persaingan ini tentu akan semakin memperburuk kondisi dan menekan ketersediaan pasokan untuk Indonesia.

Dampak Kenaikan Harga Minyak Terhadap APBN Indonesia

Kenaikan harga minyak mentah dunia memiliki implikasi yang signifikan bagi perekonomian Indonesia. Sebagai negara dengan kebutuhan migas nasional yang mencapai sekitar 1 juta barel per hari, Indonesia sangat rentan terhadap fluktuasi harga minyak global.

Eddy Soeparno menekankan bahwa beban impor migas Indonesia akan semakin berat seiring dengan kenaikan harga minyak mentah. Kondisi ini diperparah dengan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, yang telah menembus level di atas Rp 17.000. Kombinasi antara harga minyak yang melonjak dan nilai tukar rupiah yang melemah akan meningkatkan biaya impor migas secara signifikan.