Jakarta, Indonesia – Pasar minyak global dikejutkan dengan lonjakan harga yang dramatis pada Senin (9/3/) setelah konflik yang semakin intensif antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran memicu kekhawatiran serius tentang potensi gangguan pasokan energi. Ketegangan geopolitik yang meningkat pesat di Timur Tengah telah mendorong harga minyak mentah ke level yang terakhir kali terlihat pada masa-masa awal krisis energi global pada tahun 2022, menghidupkan kembali memori tentang inflasi yang merajalela dan ketidakpastian ekonomi.

Lonjakan harga minyak ini terjadi di tengah kekhawatiran mendalam tentang stabilitas kawasan yang kaya akan sumber daya energi tersebut. Serangan udara yang menargetkan fasilitas minyak Iran telah memperburuk situasi, memicu reaksi keras dari Teheran dan meningkatkan risiko eskalasi konflik yang lebih luas.

Reaksi Pasar yang Panik

Menurut data dari Investing.com, kontrak berjangka minyak Brent untuk pengiriman Mei melonjak lebih dari 25 persen, mencapai puncak USD117,16 per barel dalam perdagangan Asia. Kenaikan ini mencerminkan kepanikan pasar terhadap potensi gangguan pasokan yang signifikan.

Sementara itu, kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI), patokan harga minyak AS, juga mengalami kenaikan yang luar biasa. WTI naik hingga 30 persen dan sempat menyentuh USD118,82 per barel dalam perdagangan intraday. Lonjakan ini menunjukkan bahwa dampak konflik tidak hanya dirasakan di pasar global, tetapi juga memiliki implikasi yang signifikan bagi konsumen dan bisnis di Amerika Serikat.

Para analis pasar mencatat bahwa kenaikan harga yang tajam ini mencerminkan ketakutan yang mendalam tentang potensi dampak konflik terhadap produksi dan distribusi minyak global. Eskalasi lebih lanjut dapat menyebabkan gangguan yang lebih parah, yang pada gilirannya dapat memicu krisis energi global.

Serangan Terhadap Infrastruktur Energi Iran

Situasi semakin memanas setelah serangan udara menghantam fasilitas minyak Iran di Teheran dan provinsi Alborz. Serangan ini merupakan yang pertama kalinya infrastruktur energi Iran menjadi sasaran langsung sejak konflik mulai memanas pada awal Maret. Serangan tersebut, yang belum diklaim oleh pihak mana pun, telah meningkatkan ketegangan antara Iran dan musuh-musuhnya, dan meningkatkan risiko pembalasan.

Pemerintah Iran mengutuk serangan itu sebagai tindakan agresi dan berjanji akan membalas dengan cara yang sesuai. Para pengamat khawatir bahwa pembalasan Iran dapat menargetkan infrastruktur energi di negara-negara lain di kawasan itu, yang selanjutnya akan mengganggu pasokan minyak global.